Tampilkan postingan dengan label BERITA PERTANIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA PERTANIAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 September 2026

 Kementan Siapkan Rp16,6 Triliun untuk Perkuat Komoditas Pertanian pada 2027

Kementan Siapkan Rp16,6 Triliun untuk Perkuat Komoditas Pertanian pada 2027


Senipertanian.com - Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan sekitar Rp16,6 triliun untuk memperkuat sejumlah komoditas pertanian pada 2027. Anggaran tersebut akan difokuskan pada padi, komoditas larangan dan pembatasan (lartas), hortikultura, serta hilirisasi perkebunan dan peternakan.

Anggaran itu merupakan bagian dari pagu Kementan 2027 sebesar Rp28,02 triliun yang telah disetujui Komisi IV DPR RI. Selain pagu tersebut, Kementan mengusulkan tambahan anggaran Rp5 triliun. Dana tambahan itu akan diarahkan untuk pengembangan sejumlah komoditas strategis perkebunan serta dukungan alat mesin pertanian, termasuk traktor untuk pengembangan tebu.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah tidak akan membagi anggaran secara merata ke seluruh komoditas. Menurut dia, strategi pembangunan pertanian dilakukan secara bertahap dengan menetapkan prioritas.

"Ini tidak bisa sekaligus. Jadi kita selesaikan satu-satu. Karena kalau anggaran ini dibagi rata, biasanya tidak ada yang jadi," kata Amran seusai rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Selasa (1/9) dikutip dari kanal kementan pertanian.go.id

Kementan menyebut delapan komoditas strategis telah mencapai swasembada. Komoditas tersebut yakni beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Total produksi delapan komoditas itu diproyeksikan mencapai 72,91 juta ton. Sementara kebutuhan nasional diperkirakan 68,22 juta ton.

Dengan demikian, terdapat surplus produksi sekitar 4,69 juta ton. Pemerintah akan mempertahankan surplus tersebut sembari mengalihkan perhatian ke komoditas yang masih membutuhkan penguatan produksi. Salah satu yang menjadi pekerjaan rumah ialah bawang putih.

Padi Dapat Anggaran Terbesar

Dari rancangan kegiatan utama Kementan 2027, padi menjadi komoditas dengan alokasi anggaran terbesar, yakni sekitar Rp9,6 triliun. Anggaran tersebut ditujukan untuk meningkatkan produktivitas padi hingga 10-12 ton per hektare sekaligus menjaga swasembada beras.

Selanjutnya, sekitar Rp1,9 triliun dialokasikan untuk komoditas lartas, meliputi jagung, kedelai, dan ubi kayu.

Pengembangan ketiga komoditas itu ditujukan untuk meningkatkan produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri. Sementara itu, sektor hortikultura mendapat alokasi sekitar Rp2 triliun. 

Anggaran tersebut mencakup pengembangan bawang putih, cabai, bawang merah, serta program Pekarangan Pangan Bergizi. Untuk bawang putih, pemerintah menargetkan produksi mencapai 40,63 ribu ton pada 2027. 

Amran mengatakan peningkatan anggaran hortikultura dilakukan setelah pemerintah sebelumnya memprioritaskan sektor pangan, perkebunan, dan peternakan.

"Memang fokusnya kemarin adalah perkebunan, peternakan, pangan, ini positif semua. Ini tidak bisa sekaligus, tahun ini kita anggarkan dua kali lipat lebih. Itu untuk hortikultura tahun 2027," ujarnya.

Menurut Amran, capaian produksi pada sejumlah sektor membuat pemerintah dapat mulai menggeser perhatian ke komoditas yang masih belum sepenuhnya mandiri.

"Sekarang pangan alhamdulillah sudah swasembada beras, kemudian ayam bahkan surplus. Kemudian perkebunan tadi naik melonjak tajam. Nah tinggal satu kan PR kita. Ini insya Allah satu-satu," katanya.

Produksi Naik, Infrastruktur Pascapanen Dikebut

Kementan tidak hanya menyiapkan anggaran untuk meningkatkan produksi. Pemerintah juga menyoroti persoalan pascapanen, terutama untuk komoditas hortikultura.

Amran mengatakan peningkatan produksi tanpa dukungan infrastruktur penyimpanan berisiko menekan harga ketika terjadi panen raya. Karena itu, pemerintah mendorong pembangunan fasilitas penyimpanan seperti cold storage untuk sayuran, cabai, dan bawang merah.

"Ini butuh solusi permanen, cold storage sayur-sayuran, cabai, bawang merah, apa segala macam," kata Amran.

Selain hortikultura, Kementan mengalokasikan sekitar Rp2,3 triliun untuk hilirisasi perkebunan. Komoditas yang menjadi sasaran antara lain kelapa, kakao, kopi, pala, lada, dan tebu.

Hilirisasi ditujukan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menciptakan nilai tambah sebelum komoditas masuk ke pasar. Untuk hilirisasi peternakan, Kementan menyiapkan sekitar Rp798 miliar. Fokusnya mencakup daging sapi dan kerbau, telur, serta susu.

Kementan juga mengusulkan tambahan anggaran Rp5 triliun untuk mempercepat pengembangan komoditas perkebunan, seperti kelapa, lada, pala, tebu, kopi, kakao, dan jambu mete. Usulan tersebut juga mencakup dukungan traktor untuk pengembangan komoditas tebu.

Dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI, pagu anggaran Kementan Tahun Anggaran 2027 sebesar Rp28,02 triliun disetujui. Komisi IV juga menyetujui usulan tambahan Rp5 triliun untuk selanjutnya dibahas dan disinkronisasi bersama Badan Anggaran DPR RI.

Dengan anggaran tersebut, Kementan menargetkan swasembada delapan komoditas strategis dapat dipertahankan. Pada saat yang sama, pemerintah mulai menggenjot komoditas yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Tantangan berikutnya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi memastikan hasil pertanian terserap pasar dengan harga yang tetap menguntungkan petani dan pekebun.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang Kementan menyiapkan anggaran 2027 untuk menjaga swasembada delapan komoditas sekaligus mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat hilirisasi pertanian.Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com 

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Rabu, 02 September 2026

Mentan Amran Dorong PM-AAS, Hasil Panen Naik Pendapatan Petani Melonjak

Mentan Amran Dorong PM-AAS, Hasil Panen Naik Pendapatan Petani Melonjak


Senipertanian.com - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendorong penerapan Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) untuk meningkatkan produktivitas padi sekaligus memperbesar pendapatan petani. Metode yang telah diuji sekitar dua tahun tersebut menunjukkan hasil produksi yang dapat meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan pola budidaya konvensional.

Mentan Amran mengatakan PM-AAS kini mulai diterapkan di sejumlah provinsi melalui demfarm. Hasil pengujian menunjukkan produktivitas yang sebelumnya rata-rata berada di kisaran 5–5,5 ton per hektare dapat meningkat menjadi 11 ton, 12 ton, bahkan 13 ton per hektare.

“Hasilnya sangat menggembirakan, naik dua kali lipat. Yang dulu rata-rata 5 ton, 5,5 ton, sekarang menjadi 11 ton, 12 ton, bahkan ada 13 ton per hektare,” kata Mentan Amran, Rabu (2/9).

Menurut Mentan Amran, peningkatan produksi tersebut terutama didorong oleh optimalisasi populasi tanaman dalam satu hektare. PM-AAS mengatur jarak tanam sehingga jumlah tanaman dapat ditingkatkan secara signifikan tanpa harus menambah luas lahan.

“Kalau populasi 800 ribu, 13,8 gram dikalikan 800 ribu itu sekitar 11 ton. Kalau 900 ribu sekitar 12 ton, dan 1 juta bisa mendekati 13 ton,” jelasnya.

Bagi petani, peningkatan produktivitas tersebut memberikan peluang peningkatan pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan tambahan biaya budidaya. Mentan Amran menyebut tambahan biaya untuk benih, pupuk, dan kebutuhan budidaya akibat peningkatan populasi sekitar Rp2 juta per hektare.

“Lebih tinggi Rp2 juta, tetapi penghasilannya naik Rp30 juta, Rp35 juta. Jadi bertambah biaya Rp2 juta tetapi bertambah penghasilan Rp35 juta,” ujar Mentan Amran.

Dengan harga pembelian gabah pemerintah (HPP) Rp6.500 per kilogram, kenaikan produksi dari sekitar 5 ton menjadi 10 ton per hektare berarti penerimaan kotor petani meningkat sekitar Rp32,5 juta per hektare. Angka tersebut menunjukkan bahwa tambahan biaya budidaya relatif kecil dibandingkan potensi tambahan penerimaan dari peningkatan produksi.

“Kalau dulu 5 ton nilainya sekitar Rp32 juta, kalau 10 ton sekitar Rp65 juta. Ada delta, sementara pengeluaran untuk menambah populasi ini hanya sekitar Rp2 juta per hektare,” katanya.

Selain meningkatkan populasi tanaman, PM-AAS menggunakan sistem direct seeding atau tanam langsung. Benih ditanam langsung tanpa melalui proses persemaian dan pemindahan bibit.

“Ini langsung direct seeding. Tidak ada lagi biaya untuk pembibitan. Pembibitan bisa memakan waktu dua sampai tiga minggu, kemudian pindah tanam. Ini langsung,” ujar Mentan Amran.

Menurutnya, efisiensi waktu tersebut juga membuka peluang peningkatan indeks pertanaman, terutama pada lahan yang memiliki dukungan irigasi memadai. Waktu yang lebih singkat memungkinkan lahan dimanfaatkan lebih optimal untuk penanaman berikutnya.

Untuk mempercepat penerapan PM-AAS, pemerintah menyiapkan skema subsidi benih. Mentan Amran mengatakan pemerintah menargetkan penerapan metode tersebut sedikitnya pada 1 juta hektare secara nasional pada tahun depan.

“Untuk tahun depan kita anggarkan minimal 1 juta hektare. Kita mulai sekarang, tetapi tahun depan minimal 1 juta hektare,” kata Mentan Amran.

Jika produktivitas meningkat sekitar 5 ton per hektare, penerapan PM-AAS pada 1 juta hektare berpotensi menambah produksi sekitar 5 juta ton gabah. Skala tersebut menunjukkan besarnya dampak PM-AAS jika diterapkan secara luas, sekaligus memperkuat ketersediaan pangan nasional tanpa harus bergantung pada penambahan luas lahan.

Mentan Amran menegaskan peningkatan produktivitas merupakan salah satu kunci utama untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga keberlanjutan swasembada pangan. Strategi tersebut dilakukan dengan meningkatkan produktivitas, memperkuat indeks pertanaman, menekan biaya produksi, serta memastikan harga gabah tetap memberikan keuntungan bagi petani.

“Bagaimana meningkatkan produktivitas, bagaimana meningkatkan planting index. Produktivitas naik karena populasinya bertambah. Pupuk ada tambahan sekitar Rp2 juta karena populasinya lebih banyak, tetapi setelah dihitung masih menguntungkan,” katanya.

Ia menilai kombinasi produktivitas yang meningkat, harga pupuk yang lebih terjangkau, serta HPP gabah Rp6.500 per kilogram menjadi fondasi penting untuk memperkuat keuntungan petani.

“Produktivitas naik, harga pupuk turun, harga gabah HPP Rp6.500, produktivitas naik, petani sejahtera,” ujar Mentan Amran.

Menurutnya, PM-AAS pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai perubahan metode tanam, tetapi bagaimana satu lahan yang sama mampu menghasilkan produksi lebih tinggi dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani.

“Solusi pertama adalah meningkatkan kesejahteraan petani. Yang kedua adalah keberlanjutan swasembada pangan, ketahanan pangan dan kedaulatan pangan. Dampaknya luar biasa,” tegasnya.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang mentan amran dorong pm-aas hasil panen naik. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Minggu, 23 Agustus 2026

Aspirasi Puncak Papua Direspons, Mentan Amran Siap Kirim Alsintan dan Bidik 500 Hektare Kopi

Aspirasi Puncak Papua Direspons, Mentan Amran Siap Kirim Alsintan dan Bidik 500 Hektare Kopi


Senipertanian.com - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman merespons langsung aspirasi Pemerintah Kabupaten Puncak, Papua Tengah, dengan menyiapkan dukungan alat dan mesin pertanian (alsintan) bagi petani di 25 distrik.

Tak hanya alsintan, Mentan Amran juga membuka pengembangan kopi Arabika secara bertahap hingga 500 hektare untuk memperkuat sumber ekonomi masyarakat di wilayah pegunungan tersebut.

Dukungan tersebut disampaikan Mentan Amran saat menerima audiensi sejumlah kepala daerah di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Senin (24/8).

Bagi Pemkab Puncak, dukungan sarana pertanian dari Kementan menjadi penting karena sebagian wilayahnya berada di pegunungan dengan akses transportasi yang sangat terbatas.

“Untuk tahap awal kita fokuskan dulu pada alat pertanian karena anggarannya tersedia. Saya minta Ditjen PSP (Prasarana dan Sarana Pertanian) segera melihat kebutuhan alsintannya, dan penyuluh juga kita dorong untuk mendampingi,” kata Mentan Amran.

Sejumlah alsintan kecil menjadi kebutuhan mulai dari linggis, cangkul, sekop, parang, dan lain sebagainya. Kebutuhan alsintan tersebut bahkan diusulkan Pemkab Puncak untuk dikirim menggunakan dua pesawat agar dapat segera menjangkau petani di Puncak.

Mentan Amran merespons kebutuhan tersebut dengan meminta jajaran Kementan menindaklanjuti dukungan alsintan yang dapat dikirim ke Pemkab Puncak.

Selain alat pertanian, Mentan Amran juga meminta penyuluh ikut diperkuat agar bantuan yang diterima masyarakat dapat dimanfaatkan secara optimal.

Wakil Bupati Puncak, Naftali Akawal menyampaikan bahwa bagi Pemkab Puncak bantuan tersebut menjadi penting karena tingginya biaya transportasi membuat distribusi sarana pertanian ke wilayah tersebut tidak mudah.

Untuk berpindah dari satu distrik ke distrik lain, masyarakat dan pemerintah daerah bahkan harus menggunakan pesawat kecil.

Selain menghadapi kendala akses, masyarakat Puncak saat ini juga menghadapi kondisi cuaca yang ekstrem. Naftali mengatakan sebagian tanaman masyarakat terdampak kekeringan dan suhu dingin akibat salju.

“Puncak tertinggi di Papua. Dingin di sana luar biasa. Masyarakat sudah menanam, tetapi sekarang banyak yang kering karena es salju turun. Kami datang ke sini membawa harapan karena kebutuhan pertanian sangat penting,” ujarnya.

Menurut Naftali, pertanian menjadi salah satu sektor penting yang ingin diperkuat pemerintah daerah. Selain tanaman pangan, Puncak juga memiliki potensi pengembangan kopi dan peternakan. 

“Kami butuh untuk di atas itu kopi, peternakan dan pertanian. Sangat penting karena kami masih ketinggalan di Puncak. Kami minta 25 distrik itu harus ada,” ungkap Naftali.

Peluang pengembangan kopi tersebut mendapat respons langsung dari Mentan Amran. Ia meminta Pemkab Puncak memulai pengembangan kopi Arabika secara bertahap dari luasan 100 hektare. Jika mampu dikelola dengan baik, dukungan dapat diperluas hingga 500 hektare.

“Untuk kopi Arabika, coba mulai dulu 100 hektare. Kalau mampu dan berhasil, kita tambah sampai 500 hektare,” ucapnya.

Mentan Amran juga meminta Direktorat Jenderal Perkebunan berkoordinasi dengan Pemkab Puncak untuk menindaklanjuti pengembangan kopi tersebut. Menurutnya, pembangunan pertanian Papua harus terus diperkuat berdasarkan potensi masing-masing wilayah.

“Kami sangat peduli dengan Papua. Anggaran total Rp5 triliun tahun 2025-2026 di seluruh wilayah Papua,” ujar Mentan Amran.

Berbagai dukungan tersebut menjadi langkah untuk memperkuat pertanian masyarakat Puncak di tengah tantangan geografis dan cuaca.

Dengan bantuan alsintan, pendampingan penyuluh, serta peluang pengembangan kopi Arabika hingga 500 hektare, Kementan mendorong potensi pertanian di 25 distrik Kabupaten Puncak agar semakin produktif dan mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang mentan amran siap kirim alsintan dan bidik 500 hektare kopiSemoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Kamis, 30 Juli 2026

Gandeng Penyuluh Swadaya Kabupaten Bekasi, Polbangtan Kementan Sosialisasikan Program PM-AAS

Gandeng Penyuluh Swadaya Kabupaten Bekasi, Polbangtan Kementan Sosialisasikan Program PM-AAS

Senipertanian.com - Tim dosen Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor menjadi narasumber pada kegiatan Temu Tugas Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) Tingkat Kabupaten Bekasi yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi.

Kegiatan berlangsung di Kebun Jagung Yoyo, Desa Pusaka Rakyat, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, pada Rabu, (22/7/2026).

Sebanyak 45 Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) dan 23 Koordinator Penyuluh Pertanian mengikuti kegiatan yang bertujuan memperkuat koordinasi, meningkatkan kapasitas penyuluh, serta mempererat sinergi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan para pelaku utama pembangunan pertanian.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Abdillah, didampingi Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian, Ade Arief Rachman, beserta jajaran. 

Dalam sambutannya, Abdillah menyampaikan apresiasi kepada seluruh Penyuluh Pertanian Swadaya atas dedikasi dan kontribusinya dalam mendampingi petani di Kabupaten Bekasi.

"Temu tugas ini kami selenggarakan secara rutin sebagai forum komunikasi antara Dinas Pertanian dengan Penyuluh Pertanian Swadaya. Selain menjadi wadah koordinasi, kegiatan ini juga merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi PPS yang selama ini telah mendampingi petani dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka," ujar Abdillah.

Sesi materi diawali oleh Reni Suryanti, yang memaparkan Peran Strategis Penyuluh Pertanian Swadaya Pasca Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2026 tentang Urusan Pemerintahan Konkuren Tambahan di Bidang Pertanian.

Dalam paparannya dijelaskan bahwa keberadaan PPS semakin penting sebagai mitra pemerintah dalam memperkuat penyelenggaraan penyuluhan pertanian dan mendukung percepatan pencapaian swasembada pangan nasional. 

"Perasn strategis PPS dalam mendukung Program Kementan antara lain sebagai Disseminator Inovasi, Pendamping Program Prioritas, Penguat Kelembagaan Petani, Mentor Petani Muda, Mitra Penyuluh ASN, Penghubung Antar Pemangku Kepentingan, dan Penggerak Kemandirian Petani" jelas Reni.

Materi kedua disampaikan oleh Cheppy Wati, mengenai Konsep Dasar Pertanian Modern – Advanced Agricultural System (PM-AAS). Materi ini memperkenalkan pendekatan pertanian modern berbasis teknologi, efisiensi, dan keberlanjutan sebagai strategi transformasi sektor pertanian Indonesia.

“Apabila PM-AAS dilaksanakan dengan baik, akan dapat melipatgandakan pendapatan petani hingga melonjak sekitar 3 kali lipat, meningkatkan hasil panen menjadi 10–12 ton per hektar, serta memberikan rasio keuntungan (rasio B/C) mencapai hingga 4,31,” kata Cheppy.

Selanjutnya, Arif Prastiyanto, memaparkan materi bertajuk Pola Sinergi antara Dinas Pertanian, Penyuluh Pertanian, Penyuluh Pertanian Swadaya, dan Kelompok Tani.

Materi tersebut menekankan pentingnya kolaborasi, pembagian peran yang jelas, komunikasi yang efektif, serta penguatan jejaring kelembagaan dalam mendukung keberhasilan pembangunan pertanian di daerah. 

“Sinergi yang kuat tidak dibangun melalui instruksi, melainkan melalui kepercayaan, koordinasi, dan kerja sama yang konsisten,” ungkap Arif.

Kehadiran tim dosen Polbangtan Bogor dalam kegiatan ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Selain berbagi pengetahuan dan pengalaman, kegiatan ini juga menjadi sarana sosialisasi konsep Pertanian Modern – Advanced Agricultural System (PM-AAS) sebagai salah satu pendekatan inovatif dalam pengembangan pertanian Indonesia.

Suasana kegiatan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Selain penyampaian materi, peserta diajak mengikuti berbagai permainan edukatif, menyaksikan video inspiratif, serta berdiskusi mengenai berbagai tantangan penyuluhan pertanian di lapangan.

Beragam pertanyaan dan pengalaman yang disampaikan peserta menunjukkan tingginya semangat para Penyuluh Pertanian Swadaya untuk terus meningkatkan kompetensi dan memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan.

Melalui kegiatan ini diharapkan terjalin kerja sama yang semakin erat antara Polbangtan Bogor, Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Penyuluh Pertanian, Penyuluh Pertanian Swadaya, dan kelompok tani dalam mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, modern, dan berkelanjutan.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang polbantan kementan sosialisasikan program pm-aas. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Selasa, 16 Juni 2026

Cabai Rawit Makin Pedas, Harganya Nyaris Rp80.000 per Kg

Cabai Rawit Makin Pedas, Harganya Nyaris Rp80.000 per Kg


Senipertanian.com
- Harga cabai rawit merah masih menjadi salah satu tekanan utama dalam belanja pangan rumah tangga. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional mencatat harga komoditas tersebut mencapai Rp79.000 per kilogram, jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah bahan pangan pokok lainnya.

Data PIHPS yang dikelola Bank Indonesia pada Senin (15/6/2026) pagi menunjukkan cabai rawit merah menjadi komoditas dengan harga tertinggi di kelompok hortikultura. Angka tersebut juga melampaui harga cabai merah besar yang berada di level Rp60.150 per kilogram dan cabai merah keriting Rp55.700 per kilogram.

Tingginya harga cabai rawit merah memperlihatkan komoditas ini masih rentan mengalami gejolak pasokan. Dalam beberapa tahun terakhir, cabai menjadi salah satu penyumbang utama inflasi pangan karena produksinya sangat dipengaruhi faktor cuaca dan distribusi.

Di sisi lain, harga telur ayam ras tercatat Rp29.800 per kilogram. Angka ini relatif stabil dibandingkan sejumlah komoditas pangan lain yang sempat mengalami fluktuasi dalam beberapa bulan terakhir.

Untuk kelompok bumbu dapur, harga bawang merah tercatat Rp57.250 per kilogram, sedangkan bawang putih berada di level Rp43.500 per kilogram.

Sementara itu, harga beras menunjukkan kecenderungan stabil. Beras kualitas bawah dijual pada kisaran Rp14.800 hingga Rp15.100 per kilogram. Adapun beras kualitas medium berada di rentang Rp16.300 hingga Rp16.400 per kilogram, sedangkan beras kualitas super berkisar antara Rp16.800 hingga Rp17.200 per kilogram.

Pada kelompok protein hewani, daging ayam ras segar tercatat Rp36.750 per kilogram. Harga daging sapi kualitas I mencapai Rp146.350 per kilogram dan kualitas II sebesar Rp140.200 per kilogram.

Komoditas gula pasir premium dijual Rp19.900 per kilogram, sementara gula pasir lokal Rp19.200 per kilogram. Adapun harga minyak goreng curah berada di level Rp20.550 per liter, sedangkan minyak goreng kemasan bermerek dijual antara Rp23.250 hingga Rp24.100 per liter.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang harga cabai rawit nyaris Rp80.000 per kg. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan