Karhutla Kalbar Meluas, Pemerintah Perkuat Operasi Darat dan Udara

Daftar Isi

Senipertanian.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat masih menjadi perhatian serius pemerintah. Hingga Agustus 2026, luas lahan yang terdampak kebakaran di provinsi tersebut mencapai sekitar 38.310,86 hektare, berdasarkan data BPBD Kalimantan Barat.

Pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat kini memperkuat penanganan melalui operasi terpadu yang menggabungkan operasi darat, pemadaman udara, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pembasahan lahan gambut, pemetaan wilayah rawan, hingga penegakan hukum.

Penguatan penanganan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi penanganan karhutla yang digelar di Lanud Supadio, Kubu Raya, pada Jumat (4/9/2026). Rapat dihadiri Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan serta unsur terkait lainnya.

61 Titik Api Terverifikasi

Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan bahwa data satelit perlu diverifikasi langsung di lapangan. Pada pemantauan sebelumnya terdapat 166 hotspot, tetapi setelah dilakukan patroli visual, hanya 61 titik yang terkonfirmasi sebagai titik api atau fire spot. Dari titik api tersebut, diperkirakan sekitar 802 hektare lahan terbakar.

Tim gabungan kemudian berhasil melakukan pemadaman sekitar 429 hektare melalui operasi darat dan sekitar 3 hektare melalui operasi udara. Upaya pemadaman udara pada hari sebelumnya menghadapi kendala jarak pandang yang kurang dari satu kilometer akibat kabut asap.

Data tersebut sekaligus menunjukkan bahwa jumlah hotspot dari satelit tidak dapat secara otomatis disamakan dengan jumlah titik kebakaran. Verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk memastikan apakah anomali panas tersebut benar-benar merupakan kebakaran aktif.

Operasi Darat Jadi Kekuatan Utama

Pemerintah memperkuat operasi darat dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, BPBD, pemerintah daerah hingga relawan.

Pemetaan wilayah juga akan dilakukan lebih rinci hingga tingkat kabupaten dan kecamatan. Langkah tersebut bertujuan menghitung kebutuhan personel dan peralatan secara lebih presisi sehingga kekuatan penanganan dapat ditempatkan di wilayah yang memiliki tingkat ancaman paling tinggi.

Pendekatan operasi darat menjadi sangat penting terutama untuk menangani kebakaran di kawasan gambut. Api pada lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga meskipun kobaran api di permukaan telah padam, bara masih berpotensi muncul kembali.

Karena itu, pemerintah juga menyiapkan pendekatan peat injection atau penyuntikan gambut serta pembasahan kawasan gambut secara lebih menyeluruh.

9 Helikopter Water Bombing Dikerahkan

Selain operasi darat, pemerintah tetap memperkuat penanganan melalui udara.

Saat ini Satgas udara didukung 2 helikopter patroli, 2 helikopter untuk operasi modifikasi cuaca, dan 9 helikopter water bombing. Pemerintah juga merencanakan tambahan 3 helikopter Chinook dari Pasukan Bela Diri Jepang untuk memperkuat operasi pemadaman.

Penambahan armada udara tersebut diharapkan dapat membantu menjangkau lokasi kebakaran yang sulit ditangani dari darat, termasuk wilayah dengan akses terbatas dan kawasan gambut yang luas.

OMC Diperkuat, Hujan Mulai Membasahi Sejumlah Wilayah

Upaya pemadaman juga dibarengi dengan Operasi Modifikasi Cuaca. BMKG melaporkan bahwa pelaksanaan OMC di Kalimantan Barat telah menghasilkan hujan di sejumlah wilayah dan membantu meningkatkan kelembapan lahan gambut serta menekan munculnya titik api baru.

Dalam pelaksanaan OMC periode 22 Agustus–4 September 2026, tercatat 27 sorti penerbangan dengan total bahan semai berupa garam murni atau NaCl sebanyak 24.600 kilogram. Penyemaian dilakukan pada ketinggian sekitar 6.000–10.000 kaki untuk memanfaatkan awan hujan potensial.

BMKG menyatakan OMC di Kalimantan Barat kemudian diperpanjang pada 5–14 September 2026 dengan dukungan pembiayaan dari Kementerian Kehutanan dan BNPB.

Risiko Karhutla Masih Tinggi

Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang perlu terus diwaspadai. BMKG mencatat bahwa pada periode 31 Agustus–2 September 2026, suhu di atas 37°C masih teramati di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Barat. Kondisi panas dan kering dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran serta mempercepat penyebaran api apabila tidak diimbangi dengan pencegahan dan pembasahan lahan.

Pemerintah juga memprioritaskan pembasahan kawasan gambut dengan memanfaatkan potensi pertumbuhan awan hujan yang diperkirakan terjadi pada awal September.

Penegakan Hukum dan Pencegahan Diperkuat

Penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman. Pemerintah juga menegaskan pentingnya penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan.

Lahan yang terbakar akan mendapatkan pengamanan dan tidak diperbolehkan untuk kembali ditanami dalam jangka waktu tertentu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Langkah tersebut ditujukan untuk mencegah terjadinya pembakaran berulang.

Pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di tengah kondisi lahan yang kering.

Pemerintah Siapkan Dukungan Anggaran

Untuk memperkuat penanganan, dalam rapat koordinasi tersebut disampaikan dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Kehutanan sebesar Rp5,5 miliar untuk Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dukungan operasional lainnya akan dikoordinasikan lebih lanjut bersama BNPB dan DPR RI.

Dengan kombinasi operasi darat, water bombing, OMC, pembasahan gambut, pemetaan wilayah, penegakan hukum dan edukasi masyarakat, pemerintah berharap penanganan karhutla di Kalimantan Barat dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

Besarnya luasan lahan yang terbakar menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Pencegahan, patroli, deteksi dini, pembasahan gambut dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran kembali meluas.

Data kunci:

  • Luas karhutla Kalbar hingga Agustus 2026: 38.310,86 hektare
  • Hotspot yang dipantau: 166 titik
  • Fire spot terverifikasi secara visual: 61 titik
  • Estimasi lahan terbakar dari fire spot tersebut: 802 hektare
  • Pemadaman operasi darat: 429 hektare
  • Pemadaman operasi udara: 3 hektare
  • Helikopter water bombing: 9 unit
  • Helikopter patroli: 2 unit
  • Helikopter OMC: 2 unit
  • Tambahan yang direncanakan: 3 Chinook Jepang
  • OMC Kalbar 22 Agustus–4 September: 27 sorti
  • Bahan semai OMC: 24.600 kg NaCl
  • Perpanjangan OMC: 5–14 September 2026
  • Dukungan DAK Kementerian Kehutanan: Rp5,5 miliar

Sumber data: BPBD Kalimantan Barat, BNPB, Kementerian Kehutanan, dan BMKG; diperbarui berdasarkan informasi yang tersedia hingga 5 September 2026.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang karhutla kalbar meluas. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Posting Komentar