NusaQu Perkuat Ekosistem Peternakan Digital Terintegrasi, Siap Hadir di NLP Expo dan INDOGRITECH 2026

Daftar Isi

 

Senipertanian.com - PT Nusa Sentosa Indonesia (NusaQu) memaparkan kesiapan strategisnya dalam memperkuat ekosistem peternakan nasional berbasis teknologi digital menjelang penyelenggaraan Nusantara Livestock & Poultry Expo (NLP Expo) dan Indonesia Agriculture Technology Expo (INDOGRITECH) 2026. Dalam konferensi pers di Auditorium HKTI, Jakarta, Selasa (27/10), perusahaan menegaskan komitmennya untuk mendorong transformasi peternakan konvensional menjadi model bisnis agritech yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Langkah tersebut diarahkan untuk menjawab berbagai tantangan mendasar industri peternakan, mulai dari tingginya biaya produksi, efisiensi pakan, standardisasi bibit, hingga pengelolaan hasil dan limbah ternak. Melalui integrasi proses bisnis dan pemanfaatan teknologi informasi, NusaQu berupaya membangun sistem peternakan yang lebih produktif, terukur, serta mampu mendukung keberlanjutan pasokan pangan hewani di Indonesia.

Direktur NusaQu, Nanang Sugiarto, menjelaskan bahwa pengembangan ekosistem perusahaan bertumpu pada diversifikasi unit operasional yang saling terhubung. Pendekatan ini memungkinkan setiap tahapan usaha peternakan dikelola sebagai satu kesatuan rantai nilai, mulai dari penyediaan bibit dan bakalan, pemenuhan kebutuhan pakan, pengolahan komoditas ternak, hingga pemanfaatan limbah untuk menghasilkan produk bernilai tambah.

Dalam struktur operasional tersebut, Nusafarm berperan dalam penyediaan bibit dan bakalan ternak, sedangkan Musafeeds berfokus pada ketersediaan pakan berkualitas. Di sisi hilir, Musameats menangani pengolahan komoditas ternak, sementara Musawaste mengembangkan pemanfaatan limbah kotoran hewan menjadi pupuk organik yang dapat mendukung kebutuhan sektor pertanian.

“Penguatan ekosistem peternakan tidak cukup dilakukan hanya dengan meningkatkan kapasitas produksi. Diperlukan integrasi antartahapan usaha, pengelolaan data yang lebih baik, serta kolaborasi dengan para pelaku industri agar produktivitas dan efisiensi dapat ditingkatkan secara berkelanjutan,” demikian arah strategis yang disampaikan perusahaan melalui pemaparan pengembangan bisnisnya.

Model terintegrasi tersebut sejalan dengan profil publik NusaQu sebagai perusahaan rintisan agritech yang mengembangkan sistem peternakan digital dari hulu ke hilir melalui kemitraan dengan peternak, pemasok, mitra bisnis, konsumen, dan reseller.

Digitalisasi Presisi untuk Menjawab Tantangan Rantai Pasok

Salah satu tantangan utama yang menjadi perhatian NusaQu adalah pengendalian biaya pakan dan konsistensi kualitas bibit lokal. Nanang menjelaskan bahwa penggunaan bibit dari peternak rakyat, khususnya ternak pada rentang usia enam bulan hingga satu tahun, dapat menimbulkan kendala dalam penelusuran riwayat pemeliharaan. Keterbatasan informasi mengenai perawatan dan penggemukan pada fase awal berpotensi memengaruhi penentuan kebutuhan nutrisi serta performa ternak berikutnya.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, perusahaan menempatkan riset formulasi nutrisi dan pengelolaan data sebagai bagian penting dari strategi pengembangan peternakan. Penyesuaian kebutuhan pakan berdasarkan kondisi ternak diharapkan membantu meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, menjaga pertumbuhan, serta mengurangi risiko kerugian dalam operasional.

NusaQu mengoptimalkan divisi Musa Research dan platform Musadigi sebagai pendukung inovasi tersebut. Melalui pendekatan berbasis teknologi informasi, pemantauan kesehatan ternak, pencatatan perkembangan, dan penghitungan rasio pakan diarahkan agar dilakukan secara lebih sistematis dan presisi.

Digitalisasi ini juga ditujukan untuk memperkuat kemampuan peternak rakyat dalam mengambil keputusan berdasarkan data, bukan semata-mata mengandalkan perkiraan. Dengan pencatatan yang lebih terstruktur, evaluasi performa ternak dan penggunaan pakan dapat dilakukan secara berkala sehingga potensi risiko mortalitas dan inefisiensi operasional dapat diidentifikasi lebih awal.

Pada tingkat ekosistem, penerapan teknologi digital diharapkan tidak hanya memberi manfaat bagi perusahaan, tetapi juga memperluas akses peternak terhadap pengetahuan teknis, jaringan pemasok, peluang kemitraan, dan pasar. Dengan demikian, modernisasi peternakan dapat berkembang sebagai upaya peningkatan daya saing usaha rakyat sekaligus penguatan rantai pasok pangan hewani nasional.

Tiga Pilar Kehadiran NusaQu di NLP Expo dan INDOGRITECH 2026

Komitmen tersebut akan diperkenalkan melalui partisipasi NusaQu dalam NLP Expo dan INDOGRITECH 2026 yang berlangsung pada 4–7 November 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang. Kedua pameran ini mempertemukan pelaku usaha, inovator, penyedia teknologi, akademisi, dan pemangku kepentingan di sektor peternakan serta pertanian. Penyelenggara menjadwalkan kegiatan tersebut berlangsung di Hall 5 dengan jam kunjungan pukul 10.00–21.00 WIB.

Dalam partisipasinya, NusaQu menyiapkan tiga pilar utama, yaitu Business Booth, Booth Experience, dan Business Forum. Business Booth dirancang sebagai ruang untuk membangun jejaring kemitraan, memperkenalkan model bisnis, serta membuka peluang kolaborasi dengan pelaku industri dan calon mitra usaha.

Sementara itu, Booth Experience akan menghadirkan simulasi peternakan modern dalam skala mini yang memungkinkan pengunjung mengenal lebih dekat pendekatan operasional peternakan terintegrasi. Area ini juga direncanakan menampilkan fasilitas bio septic tank sebagai bagian dari pengenalan solusi pengelolaan limbah dan sanitasi di lingkungan peternakan.

Pilar ketiga, Business Forum, akan menjadi ruang diskusi bagi para pemangku kepentingan untuk membahas peluang dan tantangan pengembangan industri peternakan. Forum ini diharapkan mendorong pertukaran pengetahuan, penjajakan kerja sama, serta penyelarasan kebutuhan pelaku usaha dengan solusi teknologi dan dukungan pembiayaan.

Partisipasi NusaQu juga sejalan dengan arah penyelenggaraan NLP Expo yang mengangkat tema “Shaping a Resilient Food Estate for Indonesia”. Di sisi lain, INDOGRITECH menghadirkan ruang untuk mengeksplorasi teknologi pertanian, mekanisasi, dan solusi terintegrasi guna meningkatkan produktivitas serta ketahanan sektor agribisnis. Kolaborasi kedua pameran tersebut membuka peluang untuk memperkuat hubungan antara sektor peternakan dan pertanian dalam satu rantai produksi yang saling mendukung.

Grass to Urban: Dorong Ekonomi Sirkular dan Kemitraan Inklusif

Selain menghadirkan inovasi teknologi, NusaQu mengusung kampanye ramah lingkungan bertajuk Grass to Urban. Inisiatif ini diarahkan untuk mendorong pengelolaan sumber daya dan limbah peternakan secara lebih bertanggung jawab, termasuk mengurangi potensi pencemaran lingkungan dan emisi yang berkaitan dengan aktivitas peternakan.

Melalui pengembangan pemanfaatan limbah organik, perusahaan ingin memperkuat pendekatan ekonomi sirkular yang menghubungkan peternakan dengan sektor pertanian. Limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi beban operasional dapat diolah menjadi pupuk organik sehingga memiliki nilai guna dan berpotensi mendukung produktivitas lahan pertanian.

Pengembangan ekosistem ini turut diarahkan melalui kolaborasi dengan kalangan akademisi, lembaga perbankan, serta Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat membuka ruang bagi pengembangan pengetahuan, akses pembiayaan, serta perluasan penyerapan pasar ternak lokal.

Bagi peternak rakyat, kolaborasi lintas sektor menjadi penting untuk mengatasi keterbatasan modal, akses teknologi, dan jaringan pemasaran. Integrasi kemitraan dengan dukungan digital diharapkan dapat membantu membangun hubungan usaha yang lebih transparan, memperluas kesempatan berusaha, dan meningkatkan nilai ekonomi di sepanjang rantai pasok peternakan.

Ke depan, NusaQu menempatkan integrasi operasional, inovasi berbasis riset, digitalisasi, dan pengelolaan lingkungan sebagai fondasi pengembangan bisnisnya. Melalui partisipasi dalam NLP Expo dan INDOGRITECH 2026, perusahaan ingin memperkenalkan pendekatan peternakan yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada efisiensi, keberlanjutan, dan penguatan kemitraan.

Upaya tersebut menjadi bagian dari dorongan untuk membangun ekosistem peternakan nasional yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar. Dengan menghubungkan pelaku usaha dari hulu hingga hilir, NusaQu berharap dapat berkontribusi dalam memperkuat daya saing peternak lokal serta mendukung ketahanan pangan hewani Indonesia.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang nusaqu perkuat ekosistem peternakan digital terintegrasi. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com 

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Hubungi: Admin Seni Pertanian


Posting Komentar