Senipertanian.com - Sejarah panjang kopi Lampung ternyata memiliki jejak hingga ke Eropa. Sebuah tulisan yang dipublikasikan di Kompasiana mengungkap bahwa sekitar 130 tahun lalu, kopi dari wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Pesawaran disebut telah mencapai Rotterdam, Belanda.
Jejak tersebut berkaitan erat dengan perkembangan perkebunan kopi di kawasan Way Lima. Wilayah ini pada akhir abad ke-19 berkembang menjadi salah satu kawasan perkebunan yang menghasilkan komoditas untuk pasar internasional. Penelitian sejarah mengenai perkebunan swasta Barat di Way Lima mencatat bahwa kopi menjadi salah satu tanaman utama yang dikembangkan untuk kepentingan perdagangan ekspor.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa perusahaan perkebunan Way Lima didirikan pada 1892 oleh Hendrik Muller Szn., seorang pengusaha asal Rotterdam. Arsip perusahaan tersebut kini tersimpan di Nationaal Archief Belanda dan mencakup dokumen mengenai pembelian tanah, pengelolaan perkebunan, administrasi keuangan serta budidaya kopi.
Keterkaitan antara Way Lima dan Rotterdam menjadi bagian menarik dari perjalanan kopi Lampung. Arsip Belanda bahkan mencatat adanya dokumen mengenai perdagangan kopi Way Lima serta komunikasi perusahaan dengan pihak-pihak yang menangani pengolahan dan penjualan kopi.
Way Lima dan Perkembangan Kopi Lampung
Perkembangan perkebunan kopi di Way Lima tidak terjadi secara tiba-tiba. Penelitian sejarah mencatat bahwa pada akhir abad ke-19, kawasan tersebut mulai dikembangkan sebagai wilayah perkebunan komersial dengan tanaman ekspor, termasuk kopi.
Pada 1891, perkebunan Way Lima telah melakukan penanaman kopi dalam jumlah besar. Jenis kopi yang dikembangkan antara lain liberika dan arabika atau Java koffie. Bibit kopi didatangkan dari sejumlah wilayah di Nusantara untuk dikembangkan di Lampung.
Perusahaan Way Lima kemudian menggunakan sistem perkebunan yang terhubung dengan modal swasta Barat. Dalam perkembangannya, hasil produksi kopi dari Way Lima mulai masuk ke jaringan perdagangan internasional. Penelitian sejarah mencatat bahwa kawasan Way Lima dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi penting di Sumatra pada penghujung abad ke-19.
Data produksi juga menunjukkan bahwa perkebunan Way Lima dan Kedongdong telah menghasilkan kopi dalam jumlah signifikan pada akhir 1890-an hingga awal 1900-an. Produksi gabungan kedua kawasan tersebut mencapai lebih dari 1.000 pikul pada beberapa tahun awal periode tersebut.
![]() |
Album foto yang Arman lihat di Den Haag. (Foto arsip Arman AZ) |
Rotterdam dan Jejak Perdagangan Kopi
Rotterdam memiliki posisi penting dalam sejarah perdagangan perusahaan Way Lima. Nationaal Archief mencatat bahwa N.V. Cultuuronderneming Way Lima didirikan pada 1892, sedangkan N.V. Cultuuronderneming Kedongdong didirikan pada 1894. Keduanya berkaitan dengan Hendrik Muller Szn., pengusaha Rotterdam yang mengembangkan perkebunan di Sumatra.
Arsip perusahaan tersebut juga menunjukkan bahwa kegiatan perkebunan di Sumatra memiliki hubungan administratif dan perdagangan dengan Rotterdam. Dokumen yang tersimpan meliputi laporan perkebunan, surat-menyurat, administrasi keuangan hingga dokumen mengenai budidaya dan perdagangan kopi.
Dalam arsip tersebut bahkan terdapat dokumen mengenai perdagangan kopi Way Lima dan kopi Way Toeba dari Kedongdong. Hal ini memperlihatkan bahwa hasil perkebunan dari wilayah Lampung telah terhubung dengan jaringan perdagangan yang lebih luas pada masa kolonial.
Temuan tersebut memperkuat gambaran bahwa perjalanan kopi Lampung ke pasar internasional bukanlah fenomena baru. Lebih dari satu abad lalu, produksi kopi dari wilayah Lampung sudah berada dalam rantai perdagangan yang menghubungkan perkebunan di Sumatra dengan pusat-pusat perdagangan di Eropa.
![]() |
| Surat bertanggal 20 Agustus 1908. (Foto arsip Arman AZ) |
Dari Sejarah Panjang Menuju Kopi Lampung Masa Kini
Sejarah kopi Lampung sendiri telah berlangsung jauh sebelum berkembangnya industri kopi modern. Salah satu sumber sejarah yang dikutip dalam publikasi pemerintah daerah menyebutkan bahwa kopi telah ditanam di Lampung sejak 1856 dalam kebijakan perkebunan pada masa kolonial Belanda. Pada periode tersebut, kopi menjadi salah satu komoditas ekspor utama dari wilayah Lampung.
Perjalanan panjang tersebut kemudian membentuk posisi Lampung sebagai salah satu sentra kopi penting di Indonesia. Hingga kini, perkebunan kopi rakyat tersebar di sejumlah wilayah Lampung, termasuk Lampung Barat, Tanggamus dan Lampung Tengah.
Khusus Pesawaran, jejak Way Lima menunjukkan bahwa daerah ini memiliki sejarah perkebunan komersial yang cukup panjang. Penelitian mengenai Way Lima juga memperlihatkan bagaimana perkebunan kopi menjadi bagian dari dinamika ekonomi kawasan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Kisah tentang kopi Pesawaran yang disebut telah sampai Rotterdam sekitar 130 tahun lalu karena itu bukan sekadar cerita tentang secangkir kopi. Di baliknya terdapat sejarah panjang perkebunan, perdagangan, modal, teknologi, serta hubungan antara Lampung dan pasar dunia—sebuah warisan yang masih relevan ketika kopi Lampung kembali didorong untuk semakin kuat menembus pasar global.
Demikianlah artikel ini yang membahas tentang kopi asal way lima pesawaran ternyta punya sejasrah panjang di eropa. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com
Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia



0 #type=(blogger):
Posting Komentar