Nyomil Kress Produk UMKM Asal Tubaba Hadir di Lampung Begawi x SigerFest 2026, Bawa Semangat Hilirisasi Komoditas Lokal


Senipertanian.com - Produk UMKM Binaan Bank Indonesia KPw Lampung asal Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Nyomil Kress, turut hadir dalam gelaran Lampung Begawi x SigerFest 2026 yang berlangsung pada 18–20 September 2026 di Lampung City Mall (LCM), Bandar Lampung.

Keikutsertaan Nyomil Kress menjadi bagian dari upaya memperkenalkan produk pangan olahan berbasis komoditas lokal kepada masyarakat yang lebih luas. Kehadiran produk asal Tubaba tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memperluas jaringan pasar, memperkenalkan identitas produk daerah, serta membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak.

Lampung Begawi x SigerFest 2026 mengusung tema “Sai Bumi, Sejuta Nilai: Hilirisasi Komoditas Unggulan Lampung untuk Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif dan Berdaya Saing.” Kegiatan ini mempertemukan pemerintah, Bank Indonesia, pelaku UMKM, dunia usaha, perbankan, komunitas, serta berbagai mitra strategis dalam mendorong pengembangan ekonomi Lampung.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat membuka kegiatan tersebut menekankan pentingnya hilirisasi komoditas unggulan daerah untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru. Menurut pemerintah daerah, potensi pertanian Lampung perlu dikembangkan lebih jauh melalui pengolahan, inovasi, teknologi, pasar, investasi, dan pembiayaan.

Nyomil Kress Bawa Produk Olahan Jamur dari Tubaba

Nyomil Kress merupakan produk keripik jamur crispy yang dikembangkan dari jamur tiram. Produk tersebut menjadi salah satu contoh pengolahan komoditas pertanian menjadi pangan siap konsumsi yang memiliki nilai tambah.

Jamur tiram yang menjadi bahan utama Nyomil Kress berasal dari proses budidaya jamur yang dikembangkan di Kabupaten Tulang Bawang Barat. Dari komoditas segar tersebut, dilakukan proses pengolahan menjadi makanan ringan dengan karakter renyah dan praktis untuk dikonsumsi.

Konsep tersebut memiliki keterkaitan dengan semangat hilirisasi yang menjadi salah satu fokus Lampung Begawi x SigerFest 2026. Hilirisasi tidak hanya berbicara mengenai peningkatan produksi komoditas, tetapi juga bagaimana bahan baku lokal dapat diolah menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi.

Dengan mengembangkan komoditas jamur menjadi produk makanan ringan, Nyomil Kress berupaya memperpanjang rantai nilai komoditas sekaligus menghadirkan alternatif produk pangan lokal yang dapat dipasarkan kepada konsumen di berbagai daerah.

Hilirisasi Dorong Produk Lokal Naik Kelas

Hilirisasi menjadi salah satu perhatian utama dalam Lampung Begawi x SigerFest 2026. Pemerintah Provinsi Lampung dan Bank Indonesia Perwakilan Lampung mendorong agar komoditas unggulan daerah tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk olahan yang mampu menciptakan nilai tambah.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan bahwa penguatan hilirisasi membutuhkan kolaborasi, kreativitas, inovasi, serta keterhubungan antara potensi komoditas daerah dengan pasar, teknologi, investasi, dan pembiayaan.

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono menilai kekuatan perekonomian Lampung perlu terus ditransformasikan menjadi produk bernilai tambah. Ia juga menekankan pentingnya peran UMKM dalam proses tersebut, termasuk melalui penguatan kemitraan usaha, peningkatan kapasitas, dan perluasan akses pembiayaan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa UMKM memiliki posisi penting dalam rantai hilirisasi. Produk yang berasal dari komoditas lokal dapat berkembang lebih jauh apabila didukung dengan inovasi produk, penguatan kualitas, kemasan, branding, legalitas, pemasaran, hingga akses pasar.

Lampung Begawi Jadi Ruang Bertemu UMKM dan Pasar

Lampung Begawi x SigerFest 2026 tidak hanya menjadi ruang pameran produk UMKM. Kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan pelaku usaha dengan pasar, pembiayaan, teknologi, dan mitra strategis.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diarahkan agar tidak berhenti pada transaksi selama festival, tetapi dapat membangun hubungan usaha yang berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas, perluasan akses pasar, pembiayaan, digitalisasi, dan kolaborasi.

Konsep tersebut memberikan peluang bagi UMKM untuk tidak hanya memperkenalkan produk kepada pengunjung, tetapi juga mendapatkan pengalaman pasar secara langsung. Interaksi dengan konsumen dapat menjadi masukan bagi pelaku usaha dalam memahami selera pasar, kemasan, harga, varian produk, serta strategi pemasaran.

Bagi Nyomil Kress, momentum tersebut menjadi bagian dari perjalanan untuk terus memperkenalkan produk asal Tubaba kepada pasar yang lebih luas.

Digitalisasi Membuka Akses Pasar Lebih Luas

Selain hilirisasi, digitalisasi menjadi bagian penting dalam pengembangan UMKM di Lampung. Bank Indonesia mencatat hingga Juli 2026 terdapat sekitar 1,6 juta pengguna QRIS di Lampung dan sekitar 916 ribu merchant, dengan nilai transaksi mencapai Rp2,3 triliun. Jumlah pengguna QRIS secara tahunan tumbuh 17,38 persen, sementara merchant tumbuh 29,29 persen.

Menurut Bank Indonesia, digitalisasi pembayaran dapat membantu UMKM meningkatkan efisiensi transaksi, memperluas jangkauan pasar, dan terhubung dengan ekosistem ekonomi yang lebih besar.

Bagi pelaku usaha pangan seperti Nyomil Kress, perkembangan ekosistem digital memberikan peluang untuk menggabungkan pemasaran secara langsung dengan pemasaran melalui platform digital dan perdagangan elektronik.

Produk lokal yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar dapat diperkenalkan melalui media sosial, marketplace, serta berbagai kanal pemasaran digital. Dengan demikian, pasar UMKM tidak lagi terbatas pada wilayah produksi.

Dari Tubaba untuk Pasar Lampung dan Nasional

Kehadiran Nyomil Kress dalam Lampung Begawi x SigerFest 2026 juga memperlihatkan bahwa produk UMKM dari kabupaten memiliki peluang untuk tampil di ruang promosi berskala provinsi.

Bagi produk asal Tulang Bawang Barat, kesempatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat identitas daerah sekaligus memperkenalkan potensi komoditas pertanian Tubaba dalam bentuk produk siap konsumsi.

Nyomil Kress tidak hanya membawa keripik jamur crispy, tetapi juga membawa cerita mengenai bagaimana komoditas pertanian dapat dikembangkan menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah.

Model pengembangan seperti ini dapat menjadi salah satu pendekatan bagi UMKM pertanian untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil produksi. Ketika komoditas tidak berhenti sebagai bahan baku, peluang penciptaan nilai tambah, lapangan usaha, branding, dan akses pasar juga semakin terbuka.

Perlu Penguatan dari Hulu hingga Hilir

Pengembangan produk berbasis komoditas pertanian membutuhkan ekosistem yang saling terhubung. Mulai dari ketersediaan bahan baku, kualitas produksi, teknologi pengolahan, pengemasan, legalitas, pembiayaan, pemasaran, hingga distribusi perlu diperkuat secara berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, pengalaman Nyomil Kress menjadi bagian dari proses membangun rantai nilai dari hulu hingga hilir. Komoditas jamur tiram dikembangkan melalui budidaya, kemudian diolah menjadi produk makanan ringan dan dipasarkan kepada konsumen.

Penguatan pada setiap mata rantai menjadi penting agar produk lokal dapat memiliki daya saing yang lebih baik. Tidak hanya dari sisi rasa, tetapi juga konsistensi kualitas, kemasan, keamanan pangan, kapasitas produksi, pemasaran, serta kemampuan memenuhi kebutuhan pasar.

Semangat inilah yang sejalan dengan arah Lampung Begawi x SigerFest 2026 dalam mendorong komoditas dan produk unggulan daerah agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

Membuka Jalan Menuju Pasar yang Lebih Luas

Partisipasi Nyomil Kress dalam Lampung Begawi x SigerFest 2026 menjadi salah satu langkah untuk memperluas pengenalan produk kepada konsumen sekaligus membangun jejaring dengan pelaku usaha dan pemangku kepentingan lainnya.

Bagi UMKM, kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang untuk menguji respons pasar secara langsung, memperkuat branding, mencari peluang kerja sama, serta membangun hubungan dengan calon mitra distribusi.

Ke depan, pengembangan produk pangan lokal membutuhkan konsistensi antara kualitas produk dan strategi pemasaran. Penguatan identitas sebagai produk asal Tulang Bawang Barat juga dapat menjadi bagian dari cerita yang membedakan Nyomil Kress di tengah persaingan produk makanan ringan.

Dari komoditas jamur tiram hingga menjadi keripik jamur crispy, Nyomil Kress membawa semangat bahwa hasil pertanian lokal dapat terus dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Nyomil Kress dan Semangat “Sai Bumi, Sejuta Nilai”

Lampung Begawi x SigerFest 2026 menjadi gambaran bagaimana pemerintah, Bank Indonesia, UMKM, dunia usaha, dan masyarakat dapat dipertemukan dalam satu ruang untuk memperkuat ekosistem ekonomi daerah.

Bagi Nyomil Kress, kehadiran dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan memperkenalkan produk asal Tulang Bawang Barat sekaligus membawa potensi komoditas lokal menuju pasar yang lebih luas.

Semangat “Sai Bumi, Sejuta Nilai” pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai komoditas, tetapi tentang bagaimana potensi daerah dapat diolah, dikembangkan, dipasarkan, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Dari Tubaba, Nyomil Kress terus membawa keripik jamur crispy berbasis komoditas lokal untuk semakin dikenal di Lampung dan membuka peluang menuju pasar nasional.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang nyomil kress produk umkm asal tubaba hadir di lampung begawi x sigerfest 2026. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com 

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Belum ada Komentar untuk "Nyomil Kress Produk UMKM Asal Tubaba Hadir di Lampung Begawi x SigerFest 2026, Bawa Semangat Hilirisasi Komoditas Lokal"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel