Manfaatkan Eceng Gondok dan Ikan Red Devil, Siswa MAN Karo Raih Medali Emas di Malaysia
Daftar Isi
Senipertanian.com - Persoalan lingkungan di kawasan Danau Toba berhasil diubah menjadi sebuah inovasi oleh lima siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Karo, Sumatera Utara. Melalui inovasi bernama ECORED, mereka berhasil meraih Gold Medal dalam ajang World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di Malaysia.
ECORED merupakan inovasi pelet pakan ikan yang memanfaatkan dua sumber daya yang selama ini menjadi persoalan lingkungan, yakni limbah eceng gondok dan ikan Red Devil dari kawasan Danau Toba. Inovasi tersebut dikembangkan oleh Piyana, Talitha Putri Br Ginting Suka, Salsa Nabila, Quinsa Dikta Arisya, dan Levina Br Karo di bawah bimbingan guru pembimbing Harsona Sinurat.
WICE 2026 berlangsung pada 20–24 September 2026 di SEGi University, Kota Damansara, Malaysia. SEGi University bersama Indonesian Young Scientist Association (IYSA) menyelenggarakan WICE sebagai platform internasional bagi pelajar, inventor, inovator, dan peneliti untuk memperkenalkan berbagai gagasan dan karya inovasi.
Dalam ajang tersebut, berbagai bidang inovasi dipertandingkan, termasuk Environmental Sciences, Applied Life Sciences, Applied Physics and Engineering, Innovative Social Sciences, serta IT and Robotics. WICE juga menjadi ruang bagi peserta dari berbagai negara untuk mempresentasikan gagasan, bertukar pengalaman, dan memperoleh apresiasi terhadap karya yang dikembangkan.
Keberhasilan ECORED menjadi menarik karena gagasan tersebut tidak berangkat dari persoalan yang jauh dari kehidupan siswa. Mereka justru mengangkat masalah lingkungan yang berada di sekitar kawasan Danau Toba dan mencoba melihatnya dari perspektif pemanfaatan sumber daya.
Mengubah Persoalan Lingkungan Menjadi Bahan Bernilai Guna
Danau Toba menghadapi sejumlah persoalan lingkungan, salah satunya pertumbuhan eceng gondok. Sejumlah penelitian mencatat pertumbuhan eceng gondok dalam skala besar dapat berkaitan dengan persoalan kualitas perairan, eutrofikasi, serta gangguan terhadap kehidupan di ekosistem danau. Penelitian mengenai pengelolaan eceng gondok di wilayah Samosir juga menunjukkan bahwa tanaman tersebut telah lama menjadi perhatian dalam pengelolaan lingkungan Danau Toba.
Eceng gondok (Eichhornia crassipes) memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat. Penelitian di kawasan Danau Toba menunjukkan bahwa pertumbuhannya dapat menjadi persoalan apabila tidak dikelola secara tepat. Karena itu, berbagai pendekatan pemanfaatan telah dikaji, mulai dari kompos hingga produk yang memiliki nilai ekonomi.
Pada sisi lain, keberadaan ikan Red Devil juga menjadi perhatian dalam pengelolaan ekosistem Danau Toba. Pakar biodiversitas Universitas Sumatera Utara (USU), Onrizal, menyebut Red Devil bukan merupakan spesies asli Danau Toba dan dalam kondisi lingkungan yang sesuai dapat berkembang pesat serta berpotensi menekan populasi ikan lokal.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebelumnya juga memasukkan Red Devil (Amphilophus labiatus) sebagai salah satu ikan asing dan invasif yang perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan perikanan Danau Toba. KKP menyebut pengelolaan perikanan berbasis ekosistem diperlukan untuk menjaga sumber daya ikan asli dan keberlanjutan ekosistem danau.
Kondisi tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi kelima siswa MAN Karo untuk mencari pendekatan berbeda. Alih-alih hanya melihat eceng gondok dan Red Devil sebagai persoalan yang harus dikurangi, keduanya dicoba untuk diolah menjadi bahan dalam pembuatan produk yang memiliki fungsi lain.
Konsep ECORED: Pakan Ikan Berbasis Sumber Daya Lokal
Harsona Sinurat menjelaskan bahwa gagasan ECORED muncul ketika para siswa mencoba melihat persoalan lingkungan dari sisi yang berbeda. Menurutnya, siswa tidak hanya melihat eceng gondok dan ikan Red Devil sebagai masalah, tetapi juga mencari kemungkinan pemanfaatannya.
“Anak-anak mencoba melihat eceng gondok dan ikan Red Devil bukan hanya sebagai masalah, tetapi sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Dari proses itu lahir ECORED sebagai alternatif pakan ikan yang ramah lingkungan dan dapat dibuat dengan bahan yang ada di sekitar masyarakat,” kata Harsona.
Konsep tersebut menjadi salah satu bagian penting dari ECORED. Bahan utama inovasi berasal dari sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar, sehingga para siswa mengusung gagasan pembuatan pakan dengan konsep bermodal nol rupiah untuk bahan baku utama.
Melalui konsep tersebut, ECORED diarahkan sebagai alternatif pemanfaatan sumber daya lokal sekaligus bagian dari upaya mengurangi material yang menjadi persoalan di lingkungan perairan. Namun, penerapan produk sebagai pakan ikan dalam skala luas tetap membutuhkan pengujian lebih lanjut terkait keamanan, kandungan nutrisi, kualitas bahan, formulasi, dan efektivitasnya.
Gagasan pemanfaatan eceng gondok sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Sejumlah penelitian dan program pemberdayaan masyarakat di kawasan Danau Toba telah mengkaji pemanfaatan tanaman tersebut menjadi kompos, bahan bernilai ekonomi, hingga bahan untuk produk lain. Pada 2026, sebuah program pengabdian masyarakat juga mengkaji pemanfaatan limbah eceng gondok sebagai bahan pakan fermentasi/probiotik.
Dengan demikian, ECORED menempatkan inovasi siswa dalam konteks yang lebih luas, yakni bagaimana persoalan lingkungan dapat didekati melalui inovasi berbasis sumber daya lokal dan prinsip pemanfaatan kembali.
Gold Medal Bukan Sekadar Penghargaan
Bagi kelima siswa MAN Karo, keikutsertaan dalam WICE 2026 bukan hanya tentang membawa pulang medali. Mereka mendapatkan pengalaman mengembangkan gagasan, menyusun inovasi, menjelaskan konsep, serta mempresentasikan karya di hadapan peserta dan juri dari berbagai negara.
Proses tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang tidak selalu diperoleh hanya melalui kegiatan pembelajaran di ruang kelas. Siswa dituntut untuk menghubungkan pengetahuan dengan persoalan nyata yang ada di lingkungan sekitar.
Harsona menilai proses pengembangan ECORED menjadi pengalaman penting bagi para siswa. Menurutnya, sebuah inovasi membutuhkan kerja keras, ketekunan, kerja sama, dan keberanian untuk menyampaikan gagasan di hadapan orang lain.
“Yang paling penting bagi kami adalah prosesnya. Anak-anak belajar bahwa sebuah inovasi membutuhkan kerja keras, ketekunan, kerja sama, dan keberanian untuk mempresentasikan gagasan. Gold Medal ini menjadi hasil yang membanggakan dari proses tersebut,” ujarnya.
Kepala MAN Karo, Ashari Fahmi, turut mengapresiasi pencapaian tersebut. Ia menilai penghargaan yang diraih ECORED menunjukkan bahwa siswa madrasah mampu mengembangkan gagasan yang berangkat dari persoalan lokal untuk kemudian dipresentasikan dalam kompetisi inovasi tingkat internasional.
“Prestasi ini merupakan hasil dari kerja keras, doa, kreativitas, dan semangat para siswa bersama guru pembimbing. Kami sangat bangga karena anak-anak MAN Karo mampu membawa karya yang berangkat dari persoalan lingkungan di daerah kita hingga tampil dan mendapatkan apresiasi di tingkat internasional,” ujar Ashari Fahmi.
Dari Danau Toba untuk Inovasi Berkelanjutan
Ashari berharap pencapaian ECORED tidak berhenti pada perolehan Gold Medal. Menurutnya, prestasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi siswa MAN Karo lainnya untuk berani mengembangkan gagasan dan menghasilkan inovasi yang memiliki manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Saya berharap prestasi ini tidak berhenti pada raihan medali saja. ECORED harus menjadi motivasi bagi siswa untuk terus menciptakan inovasi yang bermanfaat. Kita ingin siswa MAN Karo tidak hanya berprestasi, tetapi juga mampu memberikan solusi terhadap persoalan yang ada di lingkungan sekitar,” tambahnya.
Keberadaan ECORED juga memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan dapat menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya inovasi baru. Eceng gondok yang selama ini dikaitkan dengan persoalan perairan dan ikan Red Devil yang menjadi perhatian dalam pengelolaan ekosistem Danau Toba dicoba didekati melalui perspektif pemanfaatan.
Namun, agar inovasi tersebut dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih luas, diperlukan tahapan lanjutan berupa penelitian, pengujian komposisi dan kandungan nutrisi, uji keamanan, uji daya cerna, serta pengujian performa pakan terhadap ikan. Tahapan tersebut penting untuk memastikan produk tidak hanya inovatif dari sisi gagasan, tetapi juga memenuhi aspek teknis dan keamanan.
Di sisi lingkungan, pengelolaan eceng gondok dan ikan Red Devil juga membutuhkan pendekatan yang terukur. Pengendalian spesies asing dan pengelolaan gulma air tidak cukup hanya mengandalkan pemanfaatan sebagai bahan produk, tetapi tetap perlu dilakukan sebagai bagian dari pengelolaan ekosistem Danau Toba secara menyeluruh.
ECORED pada akhirnya menjadi contoh bagaimana persoalan lokal dapat mendorong kreativitas generasi muda. Dari kawasan Danau Toba, lima siswa MAN Karo membawa sebuah gagasan ke panggung internasional dan meraih Gold Medal WICE 2026. Prestasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa inovasi berbasis lingkungan dapat dimulai dari pengamatan sederhana terhadap persoalan yang ada di sekitar masyarakat.
Demikianlah artikel ini yang membahas tentang manfaatkan eceng gondok dan ikan red devil. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com
Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia
Redaksi dan Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Admin Seni Pertanian
.jpg)
Posting Komentar