El Nino Sangat Kuat Bayangi Indonesia hingga 2027, Ribuan Hektare Lahan Terbakar

Daftar Isi

 

Senipertanian.com - Ancaman kekeringan berkepanjangan membayangi sejumlah wilayah Indonesia seiring fenomena El Nino berkategori sangat kuat yang diprediksi bertahan hingga awal 2027. Kondisi ini meningkatkan risiko berkurangnya ketersediaan air, terganggunya aktivitas masyarakat, serta meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan 2026/2027 akan mengalami kemunduran di 529 Zona Musim (ZOM), atau setara dengan 61,08 persen wilayah Indonesia yang memiliki pola musim hujan dan kemarau. Prediksi tersebut menunjukkan sebagian besar wilayah perlu bersiap menghadapi periode kering yang lebih panjang.

Dampak kondisi kering mulai terlihat di sejumlah daerah melalui panjangnya periode hari tanpa hujan dan luasnya lahan yang terbakar. Berdasarkan data Direktorat Pengendalian Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam bahan laporan yang dihimpun, Kalimantan Tengah mencatat luas lahan terbakar yang ditangani mencapai 7.938 hektare.

Sumatera Selatan menyusul dengan luas lahan terbakar mencapai 5.194 hektare, diikuti Jambi 2.025 hektare, Kalimantan Selatan 1.974 hektare, dan Kalimantan Barat 1.290 hektare. Angka tersebut menggambarkan besarnya tantangan penanganan karhutla di sejumlah wilayah, terutama ketika kondisi vegetasi mengering dan hujan belum turun secara merata.

Selain ancaman kebakaran, kekeringan juga menjadi perhatian di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam data yang disampaikan, periode hari tanpa hujan di kedua wilayah tersebut mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan. Lamanya periode tanpa hujan meningkatkan kebutuhan terhadap pengelolaan sumber air dan kesiapsiagaan menghadapi dampak kekeringan.

Pemerintah Perkuat Mitigasi Kekeringan dan Karhutla

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan kondisi cuaca sebagai dasar menentukan langkah penanganan kekeringan dan karhutla. Pemantauan dilakukan dengan memperhatikan pembaruan informasi dari BMKG serta perkembangan kondisi di lapangan.

“Kami terus memantau dan mengevaluasi setiap pemutakhiran data cuaca yang disampaikan BMKG terkait potensi kekeringan berkepanjangan,” kata Berton saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Salah satu upaya mitigasi yang dilakukan adalah operasi modifikasi cuaca (OMC). Operasi ini bertujuan meningkatkan peluang terjadinya hujan melalui penyemaian bahan tertentu ke dalam awan yang memenuhi persyaratan meteorologis. Menurut Berton, satuan tugas udara masih menjalankan operasi dengan mempertimbangkan hasil analisis kondisi cuaca.

Selain OMC, pemerintah menyalurkan bantuan air bersih bagi masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. BNPB bekerja sama dengan pemerintah daerah, organisasi, serta lembaga nirlaba untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak.

Berton menambahkan, penanganan kekeringan dan karhutla dilakukan melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait. Evaluasi dilaksanakan secara berkala, mulai dari harian hingga mingguan, agar langkah mitigasi dapat disesuaikan dengan perubahan situasi di lapangan.

El Nino Sangat Kuat, Awal Musim Hujan Diprediksi Mundur

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya menjelaskan bahwa pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4, Samudra Pasifik, menunjukkan penguatan El Nino. Dalam siaran pers pada 22 September 2026, BMKG mencatat indeks ENSO periode Juli–Agustus–September sebesar +2,63, yang menunjukkan kondisi El Nino sangat kuat. BMKG juga mencatat anomali suhu muka laut pada akhir Agustus mencapai +2,83 derajat Celsius.

BMKG menilai kondisi tersebut, yang berpotensi diperparah oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif, dapat memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Indonesia. Kombinasi dinamika atmosfer dan laut tersebut turut menjadi pertimbangan dalam memprediksi waktu kedatangan musim hujan 2026/2027.

Berdasarkan prediksi BMKG, musim hujan diperkirakan mulai terjadi pada November 2026 di 185 ZOM, yang mencakup sekitar 24,66 persen luas daratan Indonesia. Selanjutnya, pada Desember 2026, musim hujan diprediksi mulai memasuki 266 ZOM dengan cakupan sekitar 17,31 persen luas daratan Indonesia.

Meski awal musim hujan diperkirakan mundur di sebagian besar wilayah, BMKG menegaskan kondisi tersebut tidak otomatis berarti akumulasi curah hujan selama musim hujan akan berada di bawah normal di seluruh Indonesia. Sebanyak 510 ZOM atau sekitar 69,76 persen luas daratan diprediksi mengalami curah hujan kategori normal.

Adapun puncak musim hujan diperkirakan berlangsung secara bertahap, yakni pada Desember 2026 di 155 ZOM, Januari 2027 di 162 ZOM, dan Februari 2027 di 190 ZOM. BMKG juga memprediksi musim hujan di 482 ZOM atau sekitar 51,90 persen luas daratan Indonesia akan berlangsung lebih pendek dibandingkan kondisi normal.

Kesiapsiagaan Daerah Menjadi Kunci

Menghadapi ancaman kekeringan berkepanjangan, pemerintah daerah perlu memperkuat kesiapsiagaan melalui pemantauan sumber air, penyediaan bantuan air bersih, serta pengawasan wilayah rawan kebakaran. Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko terhadap masyarakat, lingkungan, dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada ketersediaan air.

BMKG juga mengingatkan pentingnya pemanfaatan informasi iklim dalam perencanaan sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, dan mitigasi bencana. Informasi mengenai prakiraan awal musim hujan, curah hujan, serta peringatan dini kekeringan perlu menjadi dasar pengambilan keputusan sesuai karakteristik setiap wilayah.

Masyarakat di daerah rawan karhutla diimbau tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api. Di wilayah yang mengalami kekurangan air, penghematan penggunaan air dan perlindungan sumber air bersih juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi periode kering yang berkepanjangan.

BNPB menyatakan evaluasi penanganan akan terus dilakukan mengikuti perkembangan cuaca dan kondisi lapangan. Penyesuaian strategi diperlukan agar operasi modifikasi cuaca, pemadaman kebakaran, dan penyaluran bantuan dapat dilaksanakan sesuai kebutuhan masing-masing daerah.

Dengan prediksi El Nino sangat kuat yang berpotensi bertahan hingga awal 2027, koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menghadapi risiko kekeringan. Kesiapsiagaan sejak dini diharapkan dapat menekan dampak bencana, menjaga ketersediaan air, serta mengurangi risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang el nino sangat kuat bayangi indonesia hingga 2027. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com 

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Hubungi: Admin Seni Pertanian


Posting Komentar