Gula Kelapa Indonesia Bidik Pasar Global, PT Sivali Lintas Benua Tampil di TEI 2026

Daftar Isi

 

Senipertanian.com - PT Sivali Lintas Benua memperkenalkan beragam produk pemanis alami berbasis kelapa dan gula palma sebagai bagian dari upaya memperluas peluang perdagangan produk Indonesia di pasar internasional. Produk yang ditampilkan meliputi coconut sugar, coconut jaggery sugar, dan granulated arenga sugar, dengan karakteristik serta penggunaan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri pangan dan pembeli global.

Kehadiran perusahaan dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 menjadi bagian dari upaya mempertemukan pemasok Indonesia dengan calon pembeli internasional. Berdasarkan informasi pada situs resmi perusahaan, PT Sivali Lintas Benua berpartisipasi dalam TEI ke-41 yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, melalui stan KPMI di Hall 3.

Melalui keikutsertaan tersebut, perusahaan membuka ruang komunikasi bisnis bagi importir, distributor, pelaku industri makanan dan minuman, serta mitra dagang yang ingin menjajaki pasokan produk Indonesia. Pembahasan dapat mencakup spesifikasi produk, kebutuhan volume, pilihan kemasan, dokumen pendukung, hingga persyaratan pengiriman ekspor.

Ragam Pemanis Alami untuk Kebutuhan Industri Pangan

Salah satu produk yang terlihat dalam foto adalah coconut jaggery sugar, yaitu gula kelapa dengan karakteristik warna cokelat dan bentuk yang berbeda dari gula pasir rafinasi. Produk lainnya adalah coconut sugar atau gula kelapa, serta granulated arenga sugar, yaitu gula aren berbentuk butiran. Ketiganya menawarkan pilihan bahan pemanis dengan karakter rasa, warna, dan penggunaan yang berbeda.

Gula kelapa umumnya dibuat dari nira bunga kelapa yang dikumpulkan, disaring, dipanaskan untuk mengurangi kadar air, kemudian diolah menjadi gula berbentuk kristal atau butiran. Berdasarkan informasi produk yang dipublikasikan PT Sivali Lintas Benua, gula kelapa dapat digunakan sebagai bahan baku roti dan kue, minuman, produk cokelat, makanan penutup, sereal, serta berbagai formulasi pangan lainnya.

Bagi pembeli internasional, ketersediaan beberapa jenis gula alami dapat memberikan fleksibilitas dalam pengembangan produk. Warna cokelat dan cita rasa karamel yang khas pada gula kelapa, misalnya, dapat menjadi pertimbangan dalam pembuatan kopi, minuman kakao, produk bakery, maupun makanan olahan. Sementara itu, pemilihan gula aren atau gula kelapa perlu disesuaikan dengan formulasi, spesifikasi teknis, dan karakter produk akhir yang diinginkan.

Peluang Ekspor dan Penguatan Daya Saing Produk Indonesia

Potensi gula kelapa Indonesia di pasar internasional turut tercermin dalam pemberitaan ANTARA pada 15 Februari 2026 mengenai pengembangan Banyumas, Jawa Tengah, sebagai salah satu pusat produksi dan ekspor gula kelapa. Pengembangan sektor ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga dengan revitalisasi tanaman kelapa, penguatan industri pengolahan, dan peningkatan kesejahteraan petani serta penyadap nira.

Perkembangan perdagangan juga terlihat pada pengiriman 20 ton gula kelapa dari Banyumas ke Chicago, Amerika Serikat, senilai sekitar US$46.000 pada Juni 2026, sebagaimana diberitakan RRI. Pengiriman tersebut menunjukkan adanya akses pasar bagi produk gula kelapa Indonesia sekaligus menegaskan pentingnya kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi kebutuhan pembeli luar negeri.

Meski peluang pasar terbuka, daya saing ekspor tidak cukup ditentukan oleh ketersediaan bahan baku. Konsistensi mutu, keamanan pangan, ketertelusuran rantai pasok, ketepatan spesifikasi, dan kelengkapan dokumen merupakan faktor penting untuk menjaga kepercayaan pembeli. Bagi produk yang dipasarkan sebagai organik, kesesuaian sertifikasi dengan produk, pemasok, dan negara tujuan juga perlu diverifikasi sebelum transaksi dilakukan.

TEI 2026 sebagai Ruang Pertemuan Bisnis Internasional

Trade Expo Indonesia merupakan pameran dagang berorientasi bisnis-ke-bisnis (business-to-business atau B2B) yang mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon mitra dari berbagai negara. Dalam informasi yang diterbitkan pada 30 September 2026, Kementerian Perdagangan menyebutkan bahwa TEI 2026 telah menarik pendaftaran pembeli dari 113 negara dan melibatkan 1.533 pelaku usaha Indonesia sebagai peserta pameran berdasarkan data yang dilaporkan pada akhir September.

Bagi PT Sivali Lintas Benua, forum perdagangan semacam ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pilihan produk sekaligus membangun komunikasi dengan calon pembeli yang membutuhkan pasokan sesuai spesifikasi tertentu. Penjajakan dapat diarahkan pada kebutuhan pasar ritel, distributor, maupun industri pangan yang memerlukan bahan baku dalam volume dan konfigurasi kemasan tertentu.

Melalui pendekatan perdagangan yang berorientasi pada kebutuhan pembeli, produk gula kelapa, gula kelapa berbentuk jaggery, dan gula aren berbutir berpotensi menjadi bagian dari pengembangan portofolio ekspor produk Indonesia. Langkah berikutnya adalah memastikan kesesuaian spesifikasi, kapasitas pasokan, harga, persyaratan sertifikasi, serta ketentuan pengiriman agar peluang bisnis dapat ditindaklanjuti secara terukur.

Dengan membawa ragam pemanis alami Indonesia ke forum perdagangan internasional, PT Sivali Lintas Benua menempatkan pengembangan jaringan pembeli dan komunikasi bisnis sebagai bagian dari upaya memperluas akses pasar. Potensi tersebut akan semakin kuat apabila didukung mutu yang konsisten, informasi produk yang transparan, dan kemampuan memenuhi persyaratan pasar tujuan.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang gula kelapa indonesia bidik pasar global. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com 

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Hubungi: Admin Seni Pertanian


Posting Komentar