Selasa, 22 September 2026

Berusia Lebih dari Satu Abad, Kopi Asal Way Lima Pesawaran Ternyata Punya Sejarah Panjang di Eropa

Berusia Lebih dari Satu Abad, Kopi Asal Way Lima Pesawaran Ternyata Punya Sejarah Panjang di Eropa


Senipertanian.com - Sejarah panjang kopi Lampung ternyata memiliki jejak hingga ke Eropa. Sebuah tulisan yang dipublikasikan di Kompasiana mengungkap bahwa sekitar 130 tahun lalu, kopi dari wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Pesawaran disebut telah mencapai Rotterdam, Belanda.

Jejak tersebut berkaitan erat dengan perkembangan perkebunan kopi di kawasan Way Lima. Wilayah ini pada akhir abad ke-19 berkembang menjadi salah satu kawasan perkebunan yang menghasilkan komoditas untuk pasar internasional. Penelitian sejarah mengenai perkebunan swasta Barat di Way Lima mencatat bahwa kopi menjadi salah satu tanaman utama yang dikembangkan untuk kepentingan perdagangan ekspor.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa perusahaan perkebunan Way Lima didirikan pada 1892 oleh Hendrik Muller Szn., seorang pengusaha asal Rotterdam. Arsip perusahaan tersebut kini tersimpan di Nationaal Archief Belanda dan mencakup dokumen mengenai pembelian tanah, pengelolaan perkebunan, administrasi keuangan serta budidaya kopi.

Keterkaitan antara Way Lima dan Rotterdam menjadi bagian menarik dari perjalanan kopi Lampung. Arsip Belanda bahkan mencatat adanya dokumen mengenai perdagangan kopi Way Lima serta komunikasi perusahaan dengan pihak-pihak yang menangani pengolahan dan penjualan kopi.

Way Lima dan Perkembangan Kopi Lampung

Perkembangan perkebunan kopi di Way Lima tidak terjadi secara tiba-tiba. Penelitian sejarah mencatat bahwa pada akhir abad ke-19, kawasan tersebut mulai dikembangkan sebagai wilayah perkebunan komersial dengan tanaman ekspor, termasuk kopi.

Pada 1891, perkebunan Way Lima telah melakukan penanaman kopi dalam jumlah besar. Jenis kopi yang dikembangkan antara lain liberika dan arabika atau Java koffie. Bibit kopi didatangkan dari sejumlah wilayah di Nusantara untuk dikembangkan di Lampung.

Perusahaan Way Lima kemudian menggunakan sistem perkebunan yang terhubung dengan modal swasta Barat. Dalam perkembangannya, hasil produksi kopi dari Way Lima mulai masuk ke jaringan perdagangan internasional. Penelitian sejarah mencatat bahwa kawasan Way Lima dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi penting di Sumatra pada penghujung abad ke-19.

Data produksi juga menunjukkan bahwa perkebunan Way Lima dan Kedongdong telah menghasilkan kopi dalam jumlah signifikan pada akhir 1890-an hingga awal 1900-an. Produksi gabungan kedua kawasan tersebut mencapai lebih dari 1.000 pikul pada beberapa tahun awal periode tersebut.

Album foto yang Arman lihat di Den Haag. (Foto arsip Arman AZ)


Rotterdam dan Jejak Perdagangan Kopi

Rotterdam memiliki posisi penting dalam sejarah perdagangan perusahaan Way Lima. Nationaal Archief mencatat bahwa N.V. Cultuuronderneming Way Lima didirikan pada 1892, sedangkan N.V. Cultuuronderneming Kedongdong didirikan pada 1894. Keduanya berkaitan dengan Hendrik Muller Szn., pengusaha Rotterdam yang mengembangkan perkebunan di Sumatra.

Arsip perusahaan tersebut juga menunjukkan bahwa kegiatan perkebunan di Sumatra memiliki hubungan administratif dan perdagangan dengan Rotterdam. Dokumen yang tersimpan meliputi laporan perkebunan, surat-menyurat, administrasi keuangan hingga dokumen mengenai budidaya dan perdagangan kopi.

Dalam arsip tersebut bahkan terdapat dokumen mengenai perdagangan kopi Way Lima dan kopi Way Toeba dari Kedongdong. Hal ini memperlihatkan bahwa hasil perkebunan dari wilayah Lampung telah terhubung dengan jaringan perdagangan yang lebih luas pada masa kolonial.

Temuan tersebut memperkuat gambaran bahwa perjalanan kopi Lampung ke pasar internasional bukanlah fenomena baru. Lebih dari satu abad lalu, produksi kopi dari wilayah Lampung sudah berada dalam rantai perdagangan yang menghubungkan perkebunan di Sumatra dengan pusat-pusat perdagangan di Eropa.

Surat bertanggal 20 Agustus 1908. (Foto arsip Arman AZ)


Dari Sejarah Panjang Menuju Kopi Lampung Masa Kini

Sejarah kopi Lampung sendiri telah berlangsung jauh sebelum berkembangnya industri kopi modern. Salah satu sumber sejarah yang dikutip dalam publikasi pemerintah daerah menyebutkan bahwa kopi telah ditanam di Lampung sejak 1856 dalam kebijakan perkebunan pada masa kolonial Belanda. Pada periode tersebut, kopi menjadi salah satu komoditas ekspor utama dari wilayah Lampung.

Perjalanan panjang tersebut kemudian membentuk posisi Lampung sebagai salah satu sentra kopi penting di Indonesia. Hingga kini, perkebunan kopi rakyat tersebar di sejumlah wilayah Lampung, termasuk Lampung Barat, Tanggamus dan Lampung Tengah.

Khusus Pesawaran, jejak Way Lima menunjukkan bahwa daerah ini memiliki sejarah perkebunan komersial yang cukup panjang. Penelitian mengenai Way Lima juga memperlihatkan bagaimana perkebunan kopi menjadi bagian dari dinamika ekonomi kawasan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Kisah tentang kopi Pesawaran yang disebut telah sampai Rotterdam sekitar 130 tahun lalu karena itu bukan sekadar cerita tentang secangkir kopi. Di baliknya terdapat sejarah panjang perkebunan, perdagangan, modal, teknologi, serta hubungan antara Lampung dan pasar dunia—sebuah warisan yang masih relevan ketika kopi Lampung kembali didorong untuk semakin kuat menembus pasar global.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang kopi asal way lima pesawaran ternyta punya sejasrah panjang di eropa. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com 

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Senin, 21 September 2026

Mentan Amran Beberkan Skema Pembiayaan Pengembangan Bioetanol Nasional

Mentan Amran Beberkan Skema Pembiayaan Pengembangan Bioetanol Nasional

Senipertanian.com - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan skema pembiayaan pengembangan industri bioetanol nasional yang akan melibatkan BUMN, swasta, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Amran seusai rapat program khusus pengembangan bioetanol bersama 44 bupati dari berbagai provinsi di Jakarta, Senin (21/9/2026). Program ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemandirian energi nasional melalui pengembangan biofuel berbasis komoditas pertanian.

“Sekarang pangan selesai, protein sudah selesai. Sekarang etanol kita kejar. Etanol ini butuh lahan 1 sampai 2 juta hektare dengan tiga komoditas strategis,” ujar Amran.

Tebu, Singkong, dan Jagung Jadi Bahan Baku

Menurut Amran, pengembangan bioetanol akan bertumpu pada tiga komoditas utama, yakni tebu, ubi kayu atau singkong, dan jagung. Pemerintah akan mendorong pembangunan kawasan bahan baku sekaligus industri pengolahan agar hasil pertanian memiliki nilai tambah.

Dari sisi investasi, pemerintah menyiapkan skema sinergi antara BUMN dan swasta. Amran memperkirakan sekitar 30 persen investasi berasal dari BUMN dan 70 persen dari swasta, meskipun komposisinya akan disesuaikan dengan kemampuan BUMN.

“Pokoknya berapa kemampuan BUMN, sesudah itu swasta. Dan swasta pasti antri. Yang penting kepastian lahan,” katanya.

Kepastian Lahan Jadi Prioritas

Pemerintah akan memastikan ketersediaan dan legalitas lahan sebelum investasi dilakukan. Kepastian tersebut dinilai penting untuk memberikan dasar yang jelas bagi investor sekaligus memastikan pengembangan kawasan berjalan tertib.

Amran menegaskan masyarakat juga harus mendapatkan manfaat langsung dari pengembangan industri bioetanol. Pemerintah mendorong keterlibatan rakyat minimal 30 persen melalui kemitraan dengan perusahaan.

“Ini tidak boleh monopoli, minimal 30 persen rakyat. Jadi rakyat menikmati. Ini dia tumbuh bersama perusahaan,” tegasnya.

Target E20 pada 2029

Pengembangan bioetanol diarahkan untuk mendukung program pencampuran bioetanol dengan bensin hingga E20 pada 2029. Pemerintah berharap peningkatan produksi biofuel dapat mengurangi ketergantungan terhadap energi impor sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian.

Program ini juga diproyeksikan membuka lapangan kerja dalam jumlah besar. Amran memperkirakan pengembangan industri bioetanol secara nasional dapat menciptakan sekitar 8 juta lapangan kerja permanen.

Selain mendorong investasi nasional, pemerintah juga membuka peluang bagi pengusaha daerah untuk ikut terlibat sehingga manfaat industri tidak hanya terkonsentrasi pada perusahaan besar.

Mendorong Kedaulatan Energi

Pengembangan bioetanol menjadi bagian dari strategi pemerintah membangun kemandirian energi sekaligus memperkuat sektor pertanian dari hulu hingga hilir.

Dengan keterlibatan petani, masyarakat, BUMN, swasta, dan pemerintah daerah, industri bioetanol diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi baru sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian Indonesia.

“Intinya adalah bagaimana kita berdaulat energi, pangan, protein. Insyaallah Indonesia menjadi negara besar, negara superpower ke depan,” pungkas Amran.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang mentan amran beberkan skema pembiayaan pengembangan bioetanol. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com 

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Minggu, 20 September 2026

Nyomil Kress Produk UMKM Asal Tubaba Hadir di Lampung Begawi x SigerFest 2026, Bawa Semangat Hilirisasi Komoditas Lokal

Nyomil Kress Produk UMKM Asal Tubaba Hadir di Lampung Begawi x SigerFest 2026, Bawa Semangat Hilirisasi Komoditas Lokal


Senipertanian.com - Produk UMKM Binaan Bank Indonesia KPw Lampung asal Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Nyomil Kress, turut hadir dalam gelaran Lampung Begawi x SigerFest 2026 yang berlangsung pada 18–20 September 2026 di Lampung City Mall (LCM), Bandar Lampung.

Keikutsertaan Nyomil Kress menjadi bagian dari upaya memperkenalkan produk pangan olahan berbasis komoditas lokal kepada masyarakat yang lebih luas. Kehadiran produk asal Tubaba tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memperluas jaringan pasar, memperkenalkan identitas produk daerah, serta membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak.

Lampung Begawi x SigerFest 2026 mengusung tema “Sai Bumi, Sejuta Nilai: Hilirisasi Komoditas Unggulan Lampung untuk Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif dan Berdaya Saing.” Kegiatan ini mempertemukan pemerintah, Bank Indonesia, pelaku UMKM, dunia usaha, perbankan, komunitas, serta berbagai mitra strategis dalam mendorong pengembangan ekonomi Lampung.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat membuka kegiatan tersebut menekankan pentingnya hilirisasi komoditas unggulan daerah untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru. Menurut pemerintah daerah, potensi pertanian Lampung perlu dikembangkan lebih jauh melalui pengolahan, inovasi, teknologi, pasar, investasi, dan pembiayaan.

Nyomil Kress Bawa Produk Olahan Jamur dari Tubaba

Nyomil Kress merupakan produk keripik jamur crispy yang dikembangkan dari jamur tiram. Produk tersebut menjadi salah satu contoh pengolahan komoditas pertanian menjadi pangan siap konsumsi yang memiliki nilai tambah.

Jamur tiram yang menjadi bahan utama Nyomil Kress berasal dari proses budidaya jamur yang dikembangkan di Kabupaten Tulang Bawang Barat. Dari komoditas segar tersebut, dilakukan proses pengolahan menjadi makanan ringan dengan karakter renyah dan praktis untuk dikonsumsi.

Konsep tersebut memiliki keterkaitan dengan semangat hilirisasi yang menjadi salah satu fokus Lampung Begawi x SigerFest 2026. Hilirisasi tidak hanya berbicara mengenai peningkatan produksi komoditas, tetapi juga bagaimana bahan baku lokal dapat diolah menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi.

Dengan mengembangkan komoditas jamur menjadi produk makanan ringan, Nyomil Kress berupaya memperpanjang rantai nilai komoditas sekaligus menghadirkan alternatif produk pangan lokal yang dapat dipasarkan kepada konsumen di berbagai daerah.

Hilirisasi Dorong Produk Lokal Naik Kelas

Hilirisasi menjadi salah satu perhatian utama dalam Lampung Begawi x SigerFest 2026. Pemerintah Provinsi Lampung dan Bank Indonesia Perwakilan Lampung mendorong agar komoditas unggulan daerah tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk olahan yang mampu menciptakan nilai tambah.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan bahwa penguatan hilirisasi membutuhkan kolaborasi, kreativitas, inovasi, serta keterhubungan antara potensi komoditas daerah dengan pasar, teknologi, investasi, dan pembiayaan.

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono menilai kekuatan perekonomian Lampung perlu terus ditransformasikan menjadi produk bernilai tambah. Ia juga menekankan pentingnya peran UMKM dalam proses tersebut, termasuk melalui penguatan kemitraan usaha, peningkatan kapasitas, dan perluasan akses pembiayaan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa UMKM memiliki posisi penting dalam rantai hilirisasi. Produk yang berasal dari komoditas lokal dapat berkembang lebih jauh apabila didukung dengan inovasi produk, penguatan kualitas, kemasan, branding, legalitas, pemasaran, hingga akses pasar.

Lampung Begawi Jadi Ruang Bertemu UMKM dan Pasar

Lampung Begawi x SigerFest 2026 tidak hanya menjadi ruang pameran produk UMKM. Kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan pelaku usaha dengan pasar, pembiayaan, teknologi, dan mitra strategis.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diarahkan agar tidak berhenti pada transaksi selama festival, tetapi dapat membangun hubungan usaha yang berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas, perluasan akses pasar, pembiayaan, digitalisasi, dan kolaborasi.

Konsep tersebut memberikan peluang bagi UMKM untuk tidak hanya memperkenalkan produk kepada pengunjung, tetapi juga mendapatkan pengalaman pasar secara langsung. Interaksi dengan konsumen dapat menjadi masukan bagi pelaku usaha dalam memahami selera pasar, kemasan, harga, varian produk, serta strategi pemasaran.

Bagi Nyomil Kress, momentum tersebut menjadi bagian dari perjalanan untuk terus memperkenalkan produk asal Tubaba kepada pasar yang lebih luas.

Digitalisasi Membuka Akses Pasar Lebih Luas

Selain hilirisasi, digitalisasi menjadi bagian penting dalam pengembangan UMKM di Lampung. Bank Indonesia mencatat hingga Juli 2026 terdapat sekitar 1,6 juta pengguna QRIS di Lampung dan sekitar 916 ribu merchant, dengan nilai transaksi mencapai Rp2,3 triliun. Jumlah pengguna QRIS secara tahunan tumbuh 17,38 persen, sementara merchant tumbuh 29,29 persen.

Menurut Bank Indonesia, digitalisasi pembayaran dapat membantu UMKM meningkatkan efisiensi transaksi, memperluas jangkauan pasar, dan terhubung dengan ekosistem ekonomi yang lebih besar.

Bagi pelaku usaha pangan seperti Nyomil Kress, perkembangan ekosistem digital memberikan peluang untuk menggabungkan pemasaran secara langsung dengan pemasaran melalui platform digital dan perdagangan elektronik.

Produk lokal yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar dapat diperkenalkan melalui media sosial, marketplace, serta berbagai kanal pemasaran digital. Dengan demikian, pasar UMKM tidak lagi terbatas pada wilayah produksi.

Dari Tubaba untuk Pasar Lampung dan Nasional

Kehadiran Nyomil Kress dalam Lampung Begawi x SigerFest 2026 juga memperlihatkan bahwa produk UMKM dari kabupaten memiliki peluang untuk tampil di ruang promosi berskala provinsi.

Bagi produk asal Tulang Bawang Barat, kesempatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat identitas daerah sekaligus memperkenalkan potensi komoditas pertanian Tubaba dalam bentuk produk siap konsumsi.

Nyomil Kress tidak hanya membawa keripik jamur crispy, tetapi juga membawa cerita mengenai bagaimana komoditas pertanian dapat dikembangkan menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah.

Model pengembangan seperti ini dapat menjadi salah satu pendekatan bagi UMKM pertanian untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil produksi. Ketika komoditas tidak berhenti sebagai bahan baku, peluang penciptaan nilai tambah, lapangan usaha, branding, dan akses pasar juga semakin terbuka.

Perlu Penguatan dari Hulu hingga Hilir

Pengembangan produk berbasis komoditas pertanian membutuhkan ekosistem yang saling terhubung. Mulai dari ketersediaan bahan baku, kualitas produksi, teknologi pengolahan, pengemasan, legalitas, pembiayaan, pemasaran, hingga distribusi perlu diperkuat secara berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, pengalaman Nyomil Kress menjadi bagian dari proses membangun rantai nilai dari hulu hingga hilir. Komoditas jamur tiram dikembangkan melalui budidaya, kemudian diolah menjadi produk makanan ringan dan dipasarkan kepada konsumen.

Penguatan pada setiap mata rantai menjadi penting agar produk lokal dapat memiliki daya saing yang lebih baik. Tidak hanya dari sisi rasa, tetapi juga konsistensi kualitas, kemasan, keamanan pangan, kapasitas produksi, pemasaran, serta kemampuan memenuhi kebutuhan pasar.

Semangat inilah yang sejalan dengan arah Lampung Begawi x SigerFest 2026 dalam mendorong komoditas dan produk unggulan daerah agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

Membuka Jalan Menuju Pasar yang Lebih Luas

Partisipasi Nyomil Kress dalam Lampung Begawi x SigerFest 2026 menjadi salah satu langkah untuk memperluas pengenalan produk kepada konsumen sekaligus membangun jejaring dengan pelaku usaha dan pemangku kepentingan lainnya.

Bagi UMKM, kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang untuk menguji respons pasar secara langsung, memperkuat branding, mencari peluang kerja sama, serta membangun hubungan dengan calon mitra distribusi.

Ke depan, pengembangan produk pangan lokal membutuhkan konsistensi antara kualitas produk dan strategi pemasaran. Penguatan identitas sebagai produk asal Tulang Bawang Barat juga dapat menjadi bagian dari cerita yang membedakan Nyomil Kress di tengah persaingan produk makanan ringan.

Dari komoditas jamur tiram hingga menjadi keripik jamur crispy, Nyomil Kress membawa semangat bahwa hasil pertanian lokal dapat terus dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Nyomil Kress dan Semangat “Sai Bumi, Sejuta Nilai”

Lampung Begawi x SigerFest 2026 menjadi gambaran bagaimana pemerintah, Bank Indonesia, UMKM, dunia usaha, dan masyarakat dapat dipertemukan dalam satu ruang untuk memperkuat ekosistem ekonomi daerah.

Bagi Nyomil Kress, kehadiran dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan memperkenalkan produk asal Tulang Bawang Barat sekaligus membawa potensi komoditas lokal menuju pasar yang lebih luas.

Semangat “Sai Bumi, Sejuta Nilai” pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai komoditas, tetapi tentang bagaimana potensi daerah dapat diolah, dikembangkan, dipasarkan, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Dari Tubaba, Nyomil Kress terus membawa keripik jamur crispy berbasis komoditas lokal untuk semakin dikenal di Lampung dan membuka peluang menuju pasar nasional.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang nyomil kress produk umkm asal tubaba hadir di lampung begawi x sigerfest 2026. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com 

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Sabtu, 19 September 2026

B50 Jalan, Ekspor Sawit Indonesia Terancam Susut 4,7 Juta Ton

B50 Jalan, Ekspor Sawit Indonesia Terancam Susut 4,7 Juta Ton


Senipertanian.com -
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan minyak inti sawit (palm kernel oil/PKO) nasional secara fundamental masih mencukupi untuk mendukung implementasi program biodiesel B50.

Namun, peningkatan kebutuhan sawit untuk biodiesel berpotensi menekan volume ekspor Indonesia. Tekanan tersebut diperkirakan semakin terasa pada 2027 apabila peningkatan produktivitas perkebunan tidak berjalan seiring dengan kenaikan kebutuhan domestik.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menyampaikan hal tersebut dalam 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Nusa Dua, Bali, Jumat (18/9/2026).

"Secara fundamental, produksi biofuel Indonesia saat ini sudah cukup untuk mendukung implementasi B50. Namun, implementasi B50 pada 2026 diperkirakan akan mengurangi ketersediaan stok untuk ekspor, dan pada 2027 penurunannya akan lebih jauh lagi," ujar Eddy.

Berdasarkan proyeksi GAPKI, produksi CPO dan PKO Indonesia pada 2026 mencapai sekitar 58,8 juta ton. Sementara konsumsi domestik diperkirakan sebesar 27,1 juta ton, dengan volume ekspor mencapai sekitar 31,1 juta ton.

Kondisi tersebut diperkirakan berubah pada 2027. Produksi CPO dan PKO diproyeksikan turun menjadi 56,6 juta ton, salah satunya akibat pengaruh kondisi cuaca.

Di sisi lain, konsumsi domestik justru diperkirakan meningkat menjadi 30,2 juta ton. Kebutuhan bahan baku untuk biodiesel diproyeksikan naik 18,4 persen menjadi 17,4 juta ton.

Akibat meningkatnya penyerapan domestik tersebut, volume ekspor sawit Indonesia diproyeksikan turun menjadi 26,4 juta ton pada 2027. Angka tersebut turun sekitar 14,87 persen dibandingkan proyeksi ekspor 2026 sebesar 31,1 juta ton.

Dengan demikian, terdapat potensi penurunan ekspor sekitar 4,7 juta ton hanya dalam satu tahun.

Penerimaan Negara Ikut Terpengaruh

GAPKI menilai penurunan volume ekspor perlu menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap penerimaan negara dari sektor kelapa sawit.

Menurut Eddy, pajak dan pungutan ekspor selama ini turut menjadi sumber pendanaan yang penting dalam mendukung keberlanjutan industri biodiesel nasional.

"Penurunan ekspor ini akan berdampak pada pendapatan pemerintah dari pajak dan pungutan ekspor, yang selama ini menjadi sumber dana penting untuk mendukung keberlanjutan industri biofuel," katanya.

Karena itu, peningkatan produktivitas menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan biodiesel dalam negeri dan ketersediaan sawit untuk ekspor.

Produktivitas Petani Sawit Jadi Kunci

GAPKI mendorong peningkatan produktivitas perkebunan sawit tanpa melakukan ekspansi lahan ke hutan primer.

Salah satu strategi yang dinilai penting adalah mempercepat program peremajaan tanaman (replanting) dengan penggunaan benih unggul berkualitas, khususnya pada perkebunan rakyat.

"Pekerjaan rumah terbesar kita saat ini adalah meningkatkan produktivitas, terutama untuk petani rakyat (smallholders). Meningkatkan produktivitas melalui program replanting menggunakan benih unggul berkualitas tinggi harus diimplementasikan secara efektif dan serius," ujar Eddy.

Menurut data GAPKI, luas tutupan sawit nasional mencapai sekitar 16,8 juta hektare.

Dari sisi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), anggota GAPKI tercatat menyumbang 587 sertifikat atau sekitar 48 persen. Sementara asosiasi petani swadaya baru memiliki 107 sertifikat atau sekitar 9 persen.

Kesenjangan tersebut menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah dalam meningkatkan kapasitas petani swadaya, termasuk dalam aspek produktivitas, sertifikasi, pembiayaan, dan penerapan praktik perkebunan berkelanjutan.

Eddy menegaskan bahwa petani kecil memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan industri sawit nasional.

"Petani kecil adalah kunci untuk keamanan jangka panjang, tetapi mereka masih menghadapi masalah seperti produktivitas yang rendah, tingginya biaya sertifikasi, dan keterbatasan akses pendanaan. Mendukung mereka adalah investasi nasional yang strategis untuk menjamin pasokan stok di masa depan," pungkasnya.

Dengan proyeksi kebutuhan biodiesel yang terus meningkat, peningkatan produktivitas perkebunan rakyat menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga pasokan bahan baku sekaligus mempertahankan kapasitas ekspor sawit Indonesia. 

Demikianlah berita terkait program B50 yang berpotensi menekan ekspor sawit, sehingga peningkatan produktivitas petani menjadi kunci menjaga pasokan nasional.

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan


Jumat, 18 September 2026

BI Dorong Hilirisasi dan Digitalisasi Ekonomi Lampung Lewat Lampung Begawi x Siger Fest 2026

BI Dorong Hilirisasi dan Digitalisasi Ekonomi Lampung Lewat Lampung Begawi x Siger Fest 2026


Senipertanian.com - Bank Indonesia (BI) mendorong percepatan hilirisasi komoditas unggulan dan perluasan digitalisasi ekonomi di Provinsi Lampung sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah, memperkuat daya saing usaha, serta menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Dorongan tersebut mengemuka dalam pembukaan Lampung Begawi x Siger Fest 2026 di Lampung City Mall, Bandar Lampung, kegiatan yang berlangsung pada 18–20 September 2026 tersebut mengangkat tema “Sai Bumi Sejuta Nilai: Penguatan Hilirisasi dan Digitalisasi untuk Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif dan Berdaya Saing.” Jumat (18/9/2026).

Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono mengatakan, perekonomian Lampung menunjukkan perkembangan positif dengan pertumbuhan sebesar 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Namun, pertumbuhan tersebut dinilai perlu diikuti dengan peningkatan kualitas melalui penciptaan nilai tambah dari komoditas dan produk unggulan daerah. 

Menurut Thomas, Lampung memiliki kekuatan ekonomi yang berasal dari sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, serta berbagai produk kreatif. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi ditransformasikan menjadi produk bernilai tambah yang mampu memperkuat rantai produksi dan membuka kesempatan usaha baru. 

Hilirisasi Jadi Kunci Tingkatkan Nilai Tambah

Hilirisasi menjadi salah satu agenda penting dalam pengembangan ekonomi Lampung. Berdasarkan pemberitaan Lampung Geh News dan Kupas Tuntas, sekitar 30 persen komoditas Lampung disebut telah masuk dalam proses hilirisasi. Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang yang besar untuk mengembangkan industri pengolahan berbasis komoditas lokal. 

Komoditas seperti pisang, kopi dan wastra menjadi beberapa sektor yang mendapat perhatian dalam penguatan hilirisasi. Pengembangan tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga peningkatan kualitas produk, pengolahan, pengemasan, pemasaran, hingga perluasan akses pasar. 

Thomas menekankan bahwa hilirisasi membutuhkan investasi dan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah daerah, pemerintah pusat, sektor keuangan, dunia usaha, akademisi, serta pelaku UMKM perlu membangun keterhubungan agar potensi komoditas daerah dapat berkembang menjadi rantai ekonomi yang memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat. 

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal juga menekankan pentingnya mendorong hilirisasi mulai dari tingkat desa hingga industri berskala besar. Menurutnya, peningkatan produksi harus diikuti dengan kemampuan daerah menciptakan nilai tambah melalui pengolahan dan inovasi. 

Pemerintah Provinsi Lampung menilai penguatan industri pengolahan dapat membuka peluang baru bagi masyarakat sekaligus memperkuat rantai nilai komoditas lokal. Dengan demikian, hasil produksi pertanian tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. 

UMKM Diperkuat melalui Kemitraan dan Pembiayaan

Dalam agenda hilirisasi tersebut, UMKM menjadi salah satu aktor penting. Bank Indonesia mendorong pengembangan UMKM melalui tiga pendekatan utama, yaitu penguatan kemitraan usaha, peningkatan kapasitas, serta perluasan akses pembiayaan. 

Penguatan kemitraan diarahkan agar UMKM tidak berjalan sendiri, tetapi terhubung dengan klaster usaha, agregator, dunia industri, perbankan, serta rantai pasok yang lebih luas.

Sementara itu, peningkatan kapasitas mencakup kualitas produk, manajemen usaha, tata kelola, kemampuan produksi, hingga kesiapan pelaku UMKM memasuki pasar yang lebih luas, termasuk peluang ekspor. Akses pembiayaan juga terus diperkuat agar pelaku usaha memiliki dukungan modal sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan bisnisnya. 

Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung Bimo Epyanto mengatakan Lampung Begawi x SIGER FEST 2026 tidak hanya dirancang sebagai ruang pameran produk UMKM. Kegiatan tersebut diarahkan menjadi ruang yang mempertemukan pelaku usaha dengan pasar, pembiayaan, teknologi, pemerintah, perbankan, akademisi, komunitas, dan mitra strategis. 

Dengan konsep tersebut, aktivitas ekonomi diharapkan tidak berhenti pada transaksi selama kegiatan berlangsung, tetapi dapat berlanjut melalui kerja sama bisnis, peningkatan kapasitas, perluasan pasar, pembiayaan, digitalisasi, dan kolaborasi jangka panjang.

Digitalisasi Perluas Pasar UMKM

Selain hilirisasi, BI juga menempatkan digitalisasi sebagai bagian penting dalam memperkuat ekonomi Lampung.

Salah satu instrumen yang terus berkembang adalah Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Berdasarkan data BI yang diberitakan ANTARA, hingga Juli 2026 jumlah pengguna QRIS di Lampung mencapai sekitar 1,6 juta pengguna, sedangkan jumlah merchant mencapai sekitar 916 ribu merchant. Pertumbuhan pengguna tercatat 17,38 persen secara tahunan dan merchant tumbuh 29,29 persen. Nilai transaksi QRIS mencapai sekitar Rp2,3 triliun. 

Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya penggunaan pembayaran digital dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Bagi UMKM, digitalisasi pembayaran dapat membantu meningkatkan efisiensi transaksi sekaligus membuka akses terhadap ekosistem ekonomi yang lebih luas. 

Bimo Epyanto menilai digitalisasi tidak semata-mata berkaitan dengan perubahan metode pembayaran dari tunai menjadi digital. Lebih jauh, digitalisasi diarahkan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan ekonomi, memperluas akses pasar, serta memperkuat keterhubungan pelaku usaha dengan ekosistem ekonomi dan keuangan digital. 

Perkembangan tersebut telah terlihat sejak rangkaian SIGER Fest 2026. RRI melaporkan bahwa hingga April 2026 jumlah merchant QRIS di Lampung telah mencapai 889 ribu dengan nilai transaksi Rp1,87 triliun dan volume transaksi 22,4 juta transaksi. Data tersebut menunjukkan ekspansi penggunaan pembayaran digital sepanjang 2026. 

Dari Komoditas Lokal Menuju Ekonomi Bernilai Tambah

Lampung Begawi x SIGER FEST 2026 menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan agenda hilirisasi dan digitalisasi tersebut. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah ruang, antara lain Lamban Kupi untuk penguatan ekosistem kopi Lampung, Main Stage untuk kolaborasi, diskusi, literasi dan digitalisasi, serta Lamban Wastra untuk eksplorasi inovasi dan pengembangan nilai tambah wastra Lampung. 

Kolaborasi antara BI, Pemerintah Provinsi Lampung, pelaku UMKM, dunia usaha, perbankan, akademisi dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi yang lebih terintegrasi.

Penguatan hilirisasi diharapkan mampu menciptakan lebih banyak produk olahan dari komoditas lokal, sedangkan digitalisasi dapat membantu pelaku usaha meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas akses pasar.

Bagi Lampung, kombinasi antara produksi, hilirisasi, inovasi, pembiayaan dan digitalisasi menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi. Potensi besar sektor pertanian dan komoditas unggulan daerah dapat menjadi semakin bernilai ketika diikuti pengolahan, teknologi, penguatan merek, akses pasar, dan keterhubungan dengan rantai pasok yang lebih luas.

Melalui sinergi tersebut, pengembangan ekonomi Lampung diarahkan tidak sekadar mengejar pertumbuhan angka, tetapi juga menciptakan nilai tambah yang dapat dirasakan pelaku usaha dan masyarakat secara lebih luas.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang bi dorong hilirisasi dan digitalisasi ekonomi. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com 

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan
Deputi Gubernur BI Apresiasi Mr. Zian Coffee, Kopi Lampung Barat Tembus Pasar Kanada

Deputi Gubernur BI Apresiasi Mr. Zian Coffee, Kopi Lampung Barat Tembus Pasar Kanada


Senipertanian.com -
Kopi asal Lampung Barat kembali menunjukkan potensinya menembus pasar internasional. Produk Mr. Zian Coffee mendapat perhatian langsung dari Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Thomas A.M. Djiwandono, saat mengunjungi stan UMKM pada gelaran Lampung Begawi x SigerFest 2026 di Lampung City Mall, Bandar Lampung, Jumat (18/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Thomas mencicipi produk Mr. Zian Coffee dan memberikan apresiasi terhadap produk kopi yang berasal dari Lampung Barat tersebut. Momen itu menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan yang mengangkat tema “Sai Bumi, Sejuta Nilai: Hilirisasi Komoditas Unggulan Lampung untuk Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif dan Berdaya Saing.”

Kehadiran Mr. Zian Coffee dalam ajang tersebut tidak hanya memperlihatkan potensi produk kopi lokal, tetapi juga menunjukkan perkembangan UMKM Lampung dalam memperluas akses pasar. Terlebih, Mr. Zian Coffee sebelumnya telah mengikuti berbagai kegiatan pengembangan ekspor dan business matching yang difasilitasi Bank Indonesia.

Dari Lampung Barat Menuju Pasar Kanada

Perjalanan Mr. Zian Coffee menuju pasar global semakin terbuka setelah eksportir kopi asal Lampung Barat tersebut menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan buyer dari Kanada. Kesepakatan tersebut dilakukan dalam rangkaian Business Matching KKI Indonesia 2026 di Jakarta pada Agustus 2026.

MediaLampung melaporkan bahwa Mr. Zian Coffee menandatangani LoI dengan dua buyer, masing-masing dari Singapura dan Kanada. Pertemuan tersebut menjadi pintu masuk bagi produk kopi Lampung Barat untuk memperluas pemasaran ke pasar internasional.

Capaian tersebut juga memperlihatkan bahwa pengembangan produk kopi tidak berhenti pada produksi bahan mentah. Penguatan kualitas, pengemasan, legalitas, promosi, serta kemampuan membangun jejaring dengan calon pembeli internasional menjadi bagian penting dalam proses membawa kopi daerah ke pasar global.

Perjalanan Ekspor yang Terus Dikembangkan

Upaya Mr. Zian Coffee menuju pasar ekspor sebenarnya telah berlangsung sebelum capaian pada 2026. Kementerian Perdagangan RI mencatat bahwa pada Juli 2024, tim Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional melakukan kunjungan kerja ke Lampung Barat dalam rangka pengembangan ekspor kopi Lampung ke mancanegara.

Dalam kunjungan tersebut, kelompok usaha kopi yang terdiri atas sejumlah pelaku ekspor, termasuk Mr. Zian Coffee, Tugu Liwa Liwa dan Rana, mendapat perhatian pemerintah. Kementerian Perdagangan menyebut beberapa pelaku usaha tersebut telah melakukan ekspor ke Korea dan Tiongkok.

Kementerian Perdagangan juga mencatat bahwa pelaku usaha kopi tersebut telah memiliki sejumlah sertifikasi, antara lain HAKI, BPOM dan halal, sementara sertifikasi HACCP diperlukan untuk memenuhi persyaratan di negara tujuan ekspor tertentu.

Pada saat itu, pemilik Kopi Mr. Zian juga direncanakan mengikuti Trade Expo Indonesia 2024 untuk memperluas pasar ekspor. Pemerintah mendorong pelaku usaha agar aktif memanfaatkan perwakilan perdagangan dan business matching untuk mempertemukan produk dengan calon buyer internasional.

Hilirisasi Kopi Jadi Kunci Daya Saing

Perkembangan Mr. Zian Coffee sejalan dengan agenda penguatan hilirisasi komoditas unggulan Lampung. Dalam pembukaan Lampung Begawi x SigerFest 2026, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menekankan pentingnya hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas daerah.

Menurut pemberitaan Lampung1, Gubernur menyampaikan bahwa Lampung memiliki posisi penting sebagai daerah penghasil berbagai komoditas pertanian dan perkebunan, termasuk kopi. Karena itu, pengembangan industri hilir dinilai menjadi salah satu bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Gagasan tersebut menjadi semakin relevan ketika komoditas kopi tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dengan merek, kemasan dan pasar yang lebih luas.

Mr. Zian Coffee menjadi salah satu contoh bagaimana produk kopi dari Lampung Barat dapat dibawa ke ruang business matching dan bertemu dengan calon pembeli dari luar negeri. Dalam gelaran Karya Kreatif Indonesia 2026, Mr. Zian Coffee juga tercatat sebagai salah satu UMKM Lampung yang ditampilkan dalam ekosistem UMKM binaan dan mitra Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung.

Kopi Lampung Barat dan Harapan Pasar Global

Apresiasi Deputi Gubernur BI terhadap Mr. Zian Coffee di Lampung Begawi x SigerFest 2026 memberikan gambaran bahwa produk UMKM daerah semakin mendapat ruang dalam agenda pengembangan ekonomi dan ekspor.

Bagi Lampung Barat, keberhasilan membuka akses pasar Kanada menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kualitas kopi daerah ke konsumen internasional. Sementara bagi pelaku UMKM, proses tersebut menunjukkan bahwa akses pasar global membutuhkan perjalanan panjang, mulai dari peningkatan kualitas produk, pemenuhan standar, penguatan branding hingga pertemuan langsung dengan buyer.

Kopi Mr. Zian sendiri tercatat dalam platform Karya Kreatif Indonesia sebagai produk dari Kelompok Tani Cahaya Negeri (Mr. Zian Coffee) yang berlokasi di Pekon Kejadian, Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat. Produk yang ditampilkan antara lain kopi luwak robusta, kopi luwak arabika, kopi robusta Lampung, kopi petik merah robusta dan kopi petik merah arabika.

Dari Lampung Barat, perjalanan Mr. Zian Coffee menuju pasar internasional menjadi bagian dari cerita lebih besar tentang bagaimana komoditas unggulan daerah dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Dengan dukungan ekosistem UMKM, business matching, pendampingan dan penguatan standar produk, kopi Lampung memiliki peluang untuk terus memperluas pasar mancanegara.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang debuti gubernur bi apresiasi mr zihan kopi lampung barat. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com 

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan

Rabu, 16 September 2026

FAST UB Dorong Diversifikasi Produk UMKM, Madu dan Cuka Apel Diolah Menjadi Healthy Honey Gummies

FAST UB Dorong Diversifikasi Produk UMKM, Madu dan Cuka Apel Diolah Menjadi Healthy Honey Gummies

Senipertanian.com - Inovasi pengolahan pangan terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan pelaku usaha terhadap produk yang memiliki nilai tambah, praktis, dan memiliki daya saing di pasar. Salah satu inovasi tersebut diperkenalkan oleh Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FAST) Universitas Brawijaya (UB) melalui pengembangan madu dan cuka apel menjadi produk pangan berbentuk gummies.

Inovasi tersebut diperkenalkan kepada CV Sinar Tirta Indonesia, Kabupaten Malang, dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, tim FAST UB mendorong mitra untuk tidak hanya mengandalkan produk dalam bentuk cair, tetapi juga mengeksplorasi bentuk olahan lain yang lebih praktis dan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk diversifikasi UMKM.

Produk yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah Healthy Honey Gummies, yaitu olahan berbentuk permen jeli yang memanfaatkan madu dan cuka apel sebagai bagian dari formulasi. Konsep ini menawarkan alternatif pengembangan produk yang lebih modern, terutama dalam menghadirkan bahan pangan yang selama ini lebih umum dikonsumsi dalam bentuk cair ke dalam bentuk pangan yang lebih praktis.

Pengembangan produk berbentuk gummies juga sejalan dengan tren diversifikasi pangan yang menekankan aspek kemudahan konsumsi dan inovasi bentuk produk. Di pasar Indonesia sendiri, produk berbasis cuka apel dalam bentuk gummy telah mulai dikenal, menunjukkan bahwa format tersebut memiliki ruang di pasar produk pangan dan makanan kesehatan. Namun, setiap produk tetap membutuhkan formulasi, pengujian mutu, keamanan pangan, serta ketentuan perizinan yang sesuai sebelum dipasarkan secara luas.

Dari Bahan Pangan Menjadi Produk Bernilai Tambah

Ketua tim pengabdian, Dr. Ir. Agus Susilo, mengatakan madu dan cuka apel masih memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk pangan yang lebih inovatif dan memiliki nilai tambah.

“Kegiatan pengabdian ini memberikan pemahaman kepada mitra bahwa bahan pangan seperti madu dan cuka apel masih memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih inovatif dan memiliki nilai tambah,” ujar Agus, dikutip dari laman Prasetya UB.

Dalam kegiatan tersebut, peserta terlebih dahulu diperkenalkan dengan karakteristik bahan baku serta potensi pengolahannya. Pengetahuan dasar mengenai bahan menjadi bagian penting sebelum peserta memasuki tahapan praktik, sehingga proses inovasi produk tidak hanya berorientasi pada bentuk akhir, tetapi juga memahami proses pengolahan secara keseluruhan.

Sekitar 15 peserta mengikuti kegiatan tersebut secara langsung. Mereka tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga dilibatkan dalam praktik pembuatan Healthy Honey Gummies. Pendekatan praktik langsung tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami setiap tahapan pengolahan dan memperoleh pengalaman yang dapat diterapkan dalam kegiatan usaha.

Tahapan yang diperkenalkan meliputi persiapan bahan, proses pengolahan, pembentukan gummies hingga tahap pengemasan. Dengan demikian, kegiatan tidak berhenti pada pengenalan ide produk, tetapi juga diarahkan pada pemahaman teknis yang diperlukan apabila inovasi tersebut nantinya dikembangkan lebih lanjut oleh mitra.

Praktik Langsung untuk Memperkuat Kapasitas UMKM

Dr. Dedes Amertaningtyas mengatakan praktik langsung menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut karena dapat membantu mitra memahami proses pengolahan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri dalam mengembangkan produk pangan.

“Melalui praktik secara langsung, mitra dapat memahami tahapan pengolahan hingga pengemasan produk sehingga inovasi yang diperkenalkan dapat lebih mudah diterapkan dalam kegiatan usaha,” kata Dedes.

Pendekatan tersebut penting bagi UMKM karena inovasi produk tidak hanya membutuhkan gagasan, tetapi juga kemampuan untuk mengubah gagasan menjadi produk yang dapat dibuat secara konsisten. Konsistensi proses menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan ketika sebuah produk akan dikembangkan menjadi produk komersial.

Selain proses produksi, aspek pengemasan juga menjadi perhatian dalam kegiatan pengabdian tersebut. FAST UB menyerahkan vacuum sealer kepada CV Sinar Tirta Indonesia yang dipimpin Heri Suseno. Peralatan tersebut diharapkan dapat mendukung proses pengemasan produk hasil pengembangan agar lebih baik dan lebih siap untuk memasuki tahap pemasaran.

Pemberian peralatan tersebut juga menunjukkan bahwa pengembangan UMKM membutuhkan dukungan yang terintegrasi. Mulai dari bahan baku, formulasi, proses produksi, pengemasan hingga pemasaran perlu mendapatkan perhatian agar inovasi tidak berhenti pada tahap pelatihan.

Pengembangan Produk Berbasis Potensi Lokal

Kegiatan FAST UB bersama CV Sinar Tirta Indonesia juga memperlihatkan bahwa pengembangan produk pangan dapat dilakukan melalui pendekatan diversifikasi. Bahan yang sebelumnya lebih dikenal dalam satu bentuk dapat dikembangkan menjadi produk baru dengan karakteristik dan konsep pemasaran yang berbeda.

CV Sinar Tirta Indonesia sendiri memiliki keterkaitan dengan pengembangan produk berbasis cuka apel. Sebuah publikasi ilmiah tahun 2025 mencatat kegiatan pengabdian Universitas Brawijaya bersama CV Sinar Tirta Indonesia terkait pemanfaatan hasil samping produksi cuka apel menjadi bahan pangan fungsional. Dalam kegiatan tersebut, ampas cuka apel dikembangkan menjadi tepung dan digunakan sebagai bahan dalam pembuatan cookies.

Publikasi lain yang terindeks Garuda juga mencatat kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya penerapan pengolahan produk yang lebih ramah lingkungan melalui pemanfaatan hasil samping cuka apel. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengolahan hasil samping menjadi bahan pangan bernilai ekonomi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk meningkatkan pemanfaatan sumber daya sekaligus membuka peluang produk baru.

Kehadiran inovasi Healthy Honey Gummies melanjutkan gagasan yang lebih luas mengenai diversifikasi produk. Bagi pelaku UMKM, diversifikasi dapat menjadi strategi untuk memperluas pilihan produk, menjangkau segmen konsumen yang berbeda, serta meningkatkan pemanfaatan bahan baku yang tersedia.

Peluang Menuju Produk UMKM yang Lebih Kompetitif

Perubahan perilaku konsumen turut mendorong pelaku usaha pangan untuk menghadirkan produk yang praktis dan memiliki konsep yang jelas. Bentuk gummies menjadi salah satu format produk yang telah digunakan pada berbagai produk pangan dan suplemen, termasuk produk berbasis cuka apel yang saat ini tersedia di pasar Indonesia.

Meski demikian, pengembangan Healthy Honey Gummies sebagai produk komersial tetap membutuhkan tahapan lanjutan. Formula produk, karakteristik fisik, daya simpan, keamanan pangan, informasi nilai gizi, bahan tambahan pangan, serta ketentuan label dan perizinan perlu dipastikan sesuai dengan regulasi sebelum produk dipasarkan secara luas.

Karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat seperti yang dilakukan FAST UB memiliki posisi penting dalam menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan dunia usaha. Perguruan tinggi dapat memberikan pengetahuan, teknologi, serta pendampingan, sementara pelaku UMKM memiliki pengalaman terhadap bahan baku, proses bisnis, dan kebutuhan pasar.

Kegiatan yang melibatkan tim dosen Agus Susilo, Dedes Amertaningtyas, Herly Evanuarini, dan Aldyon Restu Azkarahman tersebut mendapat respons positif dari peserta. Selain praktik pembuatan produk, kegiatan juga diisi dengan diskusi mengenai peluang diversifikasi produk pangan pada tingkat UMKM.

Bagi CV Sinar Tirta Indonesia, inovasi tersebut dapat menjadi salah satu alternatif pengembangan portofolio produk berbasis madu dan cuka apel. Sementara bagi lingkungan UMKM secara lebih luas, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa inovasi produk tidak selalu harus dimulai dari bahan baku baru, tetapi dapat dilakukan dengan mengembangkan bentuk, formulasi, proses pengolahan, dan cara penyajian bahan pangan yang sudah tersedia.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku usaha, pengembangan produk pangan diharapkan tidak hanya menghasilkan inovasi pada tingkat prototipe, tetapi juga dapat dilanjutkan menuju pengujian, standardisasi, legalitas, produksi, dan pemasaran. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem UMKM pangan yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah dan memiliki daya saing lebih luas.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang fast ub dorong diversifikasi produk umkm. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com 

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan
Harga CPO Melambung 0,95% di Bursa Malaysia, Lelang KPBN Tembus Rp15.702 per Kg

Harga CPO Melambung 0,95% di Bursa Malaysia, Lelang KPBN Tembus Rp15.702 per Kg


Senipertanian.com - Pasar minyak sawit mentah (CPO) global menunjukkan tren positif pada perdagangan hari Selasa. Harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives dilaporkan mengalami penguatan untuk sesi kedua secara berturut-turut, didorong oleh kenaikan harga minyak nabati dan minyak mentah dunia. Berdasarkan data Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman November 2026 mencatatkan kenaikan signifikan hingga jeda perdagangan tengah hari. 

Kenaikan tersebut tercatat sebesar RM46 per ton atau mendaki sekitar 0,95% yang membawa posisi harga ke level RM4.896 per ton. Jika dikonversikan ke mata uang dolar Amerika Serikat, angka ini berada di kisaran US$1.200,59 per ton. Penguatan ini memberikan angin segar bagi para pelaku industri sawit regional setelah pada pekan sebelumnya sempat mengalami fluktuasi dan tekanan jual akibat kekhawatiran data ekspor. 

Selain kontrak bulan November, penguatan juga merembet ke lini kontrak lainnya di bursa berjangka Kuala Lumpur. Kontrak pengiriman bulan Oktober 2026 turut terkerek naik sebesar RM47 dan bertengger di level RM4.717 per ton. Meskipun demikian, beberapa kontrak berjangka untuk pengiriman jangka panjang seperti awal tahun depan (Januari–Februari 2027) dilaporkan masih bergerak bervariasi cenderung tertekan akibat antisipasi siklus produksi musiman.

Kondisi Lelang Domestik dan Status Withdraw KPBN

Sejalan dengan dinamika positif di bursa internasional, aktivitas perdagangan komoditas sawit di dalam negeri melalui PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga terpantau aktif. Pada lelang hari Selasa, penawaran harga CPO domestik tercatat menyentuh level yang kompetitif meskipun diwarnai oleh dinamika tawar-menawar antara penjual dan pembeli di lantai lelang.

Berdasarkan hasil lelang resmi KPBN, penawaran tertinggi untuk komoditas CPO nasional berhasil mencapai angka Rp15.702 per kilogram. Angka ini mencatatkan kenaikan tipis jika dibandingkan dengan sesi perdagangan sehari sebelumnya pada Senin (14/9/2026) di mana penawaran tertinggi berada di level Rp15.700 per kilogram, memperlihatkan tren pergerakan harga yang stabil di level atas. 

Kendati demikian, hasil akhir dari tender KPBN pada hari tersebut kembali berada dalam status withdraw (WD) atau belum terjadi transaksi final. Status withdraw ini terjadi karena harga penawaran dari pihak pembeli (buyer) yang diajukan belum menemui kata sepakat atau berada di bawah ekspektasi harga jual minimal yang dipatok oleh para penjual dalam lelang tersebut.

Implikasi Pasar dan Prospek Industri Sawit Nasional

Fenomena withdraw yang kerap terjadi di lantai lelang KPBN mengindikasikan bahwa para produsen dan penjual sawit di Indonesia masih sangat berhati-hati dalam melepas stok mereka. Mereka cenderung mematok harga tinggi demi mengimbangi tingginya biaya produksi serta mengikuti tren penguatan harga CPO acuan global yang sedang terjadi di bursa luar negeri.

Bagi para petani dan pelaku industri kelapa sawit di tanah air, bertahan di kisaran angka Rp15.700 per kilogram merupakan sinyal yang cukup menjanjikan. Stabilitas harga di tingkat lelang utama ini diharapkan dapat segera ditransmisikan secara merata ke tingkat harga Tandan Buah Segar (TBS) di berbagai daerah sentra perkebunan, sehingga kesejahteraan petani sawit tetap terjaga di tengah dinamika pasar global.

Ke depan, para analis pasar memperkirakan pergerakan harga CPO masih akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor penentu utama. Faktor-faktor tersebut meliputi kebijakan ekspor negara produsen utama seperti Indonesia dan Malaysia, volume permintaan dari negara importir besar seperti India dan China, serta fluktuasi harga minyak nabati substitusi lainnya di pasar internasional.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang harga cpo mlambung di bursa malaysia. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com 

Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Redaksi dan Informasi pemasangan iklan