Yufen Seda Petani Muda Sikka, Menanam Masa Depan dari Kebun Tomat
Senipertanian.com - Saat anak muda berlomba-lomba bekerja di kantoran, Yohanes Woda Seda, lebih memilih menjadi petani lelaki 22 tahun itu, menyampaikan, dirinya sudah terlahir dari keluarga petani sejak SMA, ia sudah menekuni dunia pertanian. Ikut ke kebun atau jualan di pasar, sudah menjadi pekerjaannya sehari-hari.
Kondisi kampung halamannya yang berada di ketinggian, menjadi alasan utama masyarakat Desa Ri'it, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur ini sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani.
"Hal yang paling mendasar ketika saya menjadi petani itu karena memang latar belakang keluarga saya itu petani," kata lelaki dengan sapaan akrab Yufen ini.
Ia menyadari bahwa menjadi petani adalah sebuah potensi yang besar untuk kehidupan.
Sejak tamat SMA, Yufen menyadari bahwa pertanian ternyata bisa mendatangkan penghasilan yang menjanjikan.
"Saya melihat potensi yang begitu besar. Dari saya SMA saya sudah terjun ke dunia pertanian. Nah, setelah tamat SMA, saya punya pikiran bahwa pertanian mempunyai peluang yang besar," lanjutnya.
Tomat Jadi Andalan, Potensi Penghasilan Capai Puluhan Juta
Hasil pertanian yang ditanam adalah hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan. Dengan penghasilan pertiga bulan dalam setahun.Sementara hasil pertanian lain yang ditanam dengan penghasilan pertahun berupa kakao, kemiri, vanili dan pala.
Hasil pertanian yang paling menjadi penentu adalah hortikultura tomat. Sementara sebagian kecil lainnya adalah wortel, pare, dan sawi.
Bagi Yufen, tomat adalah hasil tanaman hortikultura yang paling banyak menguntungan di Maumere. Penghasilan yang didapatkan pertiga bulan sekali.
Menjadi petani adalah pekerjaan yang sudah ia tekuni selama bertahun-tahun. Kecintaanya terhadap pertanian, membawa Yufen berhasil masuk kuliah di Universitas Nusa Nipa jurusan Agribisnis.
Di tengah seluruh tananan hortikultura yang di tanam, Yufen memilih membudidayakan tomat. Penghasilan yang tinggi, serta bisa beradaptasi dengan iklim dan daerah, menjadi alasan mengapa tomat menjadi tanaman utama.
“Tanaman tomat itu bisa beradaptasi di daerah manapun, di dataran tinggi ataupun dataran rendah itu bisa beradaptasi. Penghasilannya juga cukup menjangkau,” kata Yufen.
Selain bisa beradaptasi, tomat juga menjadi tanaman yang mudah dipanen. Tomat adalah tanaman yang bisa langsung dijual setelah panen. Berbeda dengan wortel dan sawi ataupun tanaman lainnya yang harus dipotong dan dibersihkan terlebih dahulu.
Selama menyiapkan berbagai macam modal mulai dari biaya produksi, biaya perawatan hingga panen, bisa mencapai 10 juta. Dengan penghasilan bersih jika harga pasar stabil mencapai 40 juta rupiah per setiap kali panen.
“Ya, karena kita melihat tomat itu kita panen langsung dijual. Beda dengan tanaman wortel, kita harus cuci dulu terus potong daunnya, terus kalau tomat kita petik langsung jual,” jelasnya.
Dalam menjual hasil panen, pasar menjadi tempat utama ia menawarkan hasil panen. Pasar yang selalu ramai seperti pasar Alok di Maumere, atau pasar harian yang berbeda seperti Pasar Nita, Ndete, atau sampai lintas kabupaten di Pasar Boru, Flores Timur.
Sebagai anak muda yang paham akan teknologi, ia juga memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan hasil jualannya. Media sosial seperti, facebook, instagram, dan whatsApp adalah media yang sering digunakannya.
Sekalipun demikian, pasar menjadi tempat paling laris untuk menjual hasil panen. Selain kepada masyarakat sekali konsumsi, ada juga pembeli yang membeli dalam jumlah banyak untuk kemudian dijual kembali.
Kuliah Sambil Bertani, Membagi Waktu antara Kampus dan Kebun
Tentu dari hasil panen yang tak sedikit, menjadi penompang hidup anak bungsu dari tiga bersaudara ini.
“Salah satunya itu bisa kuliah dengan bekerja sebagai petani,” tandasnya.
Dalam menjalani pekerjaan sebagai petani dan mahasiswa, ia harus pintar membagi waktu antara kuliah ataupun jualan di pasar.
Di tengah jadwal kuliah yang tidak padat, antara pagi, siang, atau sore, Yufen bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk membantu jualan di pasar atau ke kebun merawat tanaman, turut membantu orang tuanya.
“Kalau ada jadwal kuliah, ya masuk kuliah. Kalau tidak ada, kita pulang ke rumah, untuk memanfaatkan waktu tersebut pada pekerjaan saya. Bisa jualan juga bisa perawatan tanaman,”
Mayoritas Desa Riit yang penduduknya adalah petani, Yufen mengaku, program pemerintah untuk mensejahterahkan petani masih berlaku sampai saat ini.
Pengadaan kelompok tani adalah salah satu program yang dijalankan oleh pemerintah. Dalam program ini, pemerintah memberikan bantuan baik berupa bibit tanaman, pupuk organik maupun anorganik, yang kemudian dibagi kepada masyarakat.
“Memang ada program-program yang dapat menunjang penghasilan petani. Di desa itu ada dana desa. Nah, dana desa itu diberikan kepada kelompok tani. Masyarakat diberi alat dan bahan, bibit, itu disediakan oleh pemerintah desa,”
Sekalipun demikian, sebagai anak muda, ia berharap bahwa masih ada kemauan pemerintah untuk mengadakan program khusus untuk menarik anak muda menjadi petani.
Sekalipun memilik penghasilan yang mencukupi, menjadi petani seringkali menghadapi tantangan yang besar. Cuaca dan iklm yang tak menentu, hama tanaman, serta harga pasar yang turun adalah kendala yang paling sering dihadapi.
Tahun 2023, menjadi tahun yang kurang beruntung. Saat itu, harga tomat turun drastis. Jika biasanya harga pasar perkilo mencapai 15 ribu hingga 16 ribu rupiah, saat itu harga tomat turun 3 ribu hingga 2 ribu rupiah.
“Ya, karena harga turun, mau tidak mau kita tetap jual sekalipun rugi,” pungkasnya.
Mengajak Generasi Muda Kembali Melirik Dunia Pertanian
Menjadi petani hortikultura, tentu bukan hal yang mudah. Bertahan di tengah tempuran anak muda yang berlomba menjadi abdi negara atau pekerja kantoran, terus menumbuhkan semangat baru bagi Yufen bahwa pekerjaan petani bukanlah pekerjaan kotor-kotoran di kebun.
Di Maumere, ia melihat anak muda sangat jarang memiliki minat sebagai petani. Ada rasa khawatir bahwa kedepannya generasi muda akan hilang pekerjaan menjadi petani. Sementara, petani yang masih bertahan hingga saat ini adalah mereka yang usianya sudah tidak produktif.
“Ketertarikan anak muda di Maumere ini memang sangat kurang, karena saya lihat kecenderungan mereka itu lebih kepada pekerjaan yang bisa dilihat. Tapi mereka tidak menganalisa bahwa petani itu memiliki potensi yang besar,” lanjutnya.
Menghadapi permasalahan itu, Yufen mengatakan, ada berbagai inovasi baru yang perlu dikembangkan untuk menarik anak muda untuk menjadi petani.
Pengembangan wisata pertanian, adalah satu inovasi yang penting untuk saat ini. Daerah yang dingin, disajikan dengan keindahan alam dari ketinggian, adalah potensi wisata yang kuat bagi Desa Ri'it apabiila dikembangkan menjadi wisata pertanian.
Kegemaran anak muda akan budaya nongkrong di café dan healling, akan menjadi lebih unik apabila tempatnya diubah dalam area pertanian. Dengan demikian, anak muda akan lebih tertarik dan terbuka pada dunia pertanian.
“Agrowisata itu kan perpaduan antara wisata dan juga pertanian. Kita harus mengembangkan model pertanian yang memang bisa membuat anak muda tertarik pada dunia pertanian,” jelas petani gen Z ini.
Sebagai anak muda gen Z yang menekuni pertanian, hidup dan lahir di daerah petani, mendorong Yufen untuk berkarya mengembangkan dunia pertanian yang bukan hanya fokus pada pertanian.
Agrowisata adalah suatu konsep yang sedang dipikirkan. Potensi yang kuat di desa, memadukan pemandangan alam memukau dari atas ketinggian, adalah satu peluang baginya untuk mengembangkan dunia yang sudah ia geluti selama bertahun-tahun.
“Di tempat sepi dan tenang, akan mudah menarik anak muda untuk menjadi petani. Kita bisa memberikan pengertian, edukasi, dan pencerahan kepada mereka tentang dunia pertanian. Ada juga nanti spot foto yang bagus seperti tanaman-tanaman yang lebih menarik minat mereka,”
Di akhir sesi wawancaranya, lelaki kelahiran Wolondopo, 2004 ini mengatakan, menjadi petani adalah potensi yang besar untuk menciptakan perubahan.
“Dengan semangat belajar, kreativitas, kemauan untuk berkembang, saya ingin menjadi bagian dari generasi yang mampu membawa inovasi dan nilai baru bagi dunia pertanian,” tandasnya.
Demikianlah artikel ini yang membahas tentang petani muda sikka menanam masa depan dari kebun tomat. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pertanian hanya di Senipertanian.com
Kunjungi Artikel Seni Pertanian Makin Tahu Indonesia

Belum ada Komentar untuk "Yufen Seda Petani Muda Sikka, Menanam Masa Depan dari Kebun Tomat"
Posting Komentar